Demak-NU Online Demak
Kerajaan Demak Bintoro (1475 M – 1616 M) didirikan oleh Dewan Walisongo bersama para tokoh senior lainnya dalam Sidang Akbar Dewan Walisongo ke-9 pada tanggal 11-14 Dzul Hijjah 879 H atau bertepatan dengan tanggal 18-21 April 1475 M yang dipimpin oleh Ketua Dewan Walisongo yang pertama, Syekh Maulana Abdullah Hasan Bakem al-Maghribi atau Sunan Bonang Pertama.
Demikian disampaikan Ahmad Kastono Abdullah Hasan (AKA Hasan), peneliti Sejarah Kerajaan Demak Bintoro dan Walisongo, saat menggelar diskusi dengan Forum Kajian Sejarah Kerajaan Demak Bintoro dan Walisongo di kompleks Perumahan Bumi Wonosalam Asri, Jogoloyo, Demak, Rabu (12/03/2025) beberapa waktu lalu.
Di hari terakhir Sidang Walisongo ke-9 itu lanjut AKA Hasan, yang jatuh pada hari Jum’at Pon tanggal 21 April 1475 M/14 Dzul Hijjah 879 H, akhirnya anggota Dewan Walisongo menyepakati dibentuknya negara baru yang bernama Kerajaan Demak Bintoro. Kemudian pada siang harinya seusai sholat Jum’at dilakukanlah pembaiatan dan pelantikan terhadap kelima pejabat yang akan mengendalikan jalannya roda pemerintahan di Kerajaan Demak Bintoro.
Adapun kelima tokoh tersebut, yaitu; Raden Fatah sebagai Raja Kerajaan Demak Bintoro, Ronggo Toh Joyo atau Mahesa Jenar sebagai Patih Mangkubumi (Perdana Menteri), Laksamana Arya Damar sebagai Panglima Perang Angkatan Laut, Abdurrahman Teuku Baha sebagai Panglima Perang Angkatan Darat, dan Senopati Abdurrahman Boto Putih sebagai Adipati Jepara.
“Pelantikan dilakukan oleh Ketua Dewan Walisongo pertama yang sekaligus Ketua Majlis Syuro Kerajaan Demak Bintoro, Sunan Bonang kesatu yang bernama Syekh Maulana Abdullah Hasan Bakem”, jelasnya.
Nama-nama Raja yang pernah memimpin di Kerajaan Demak Bintoro, yaitu:
1). Raden Fatah (1475 – 1518 M),
2). Adipati Unus (1518 – 1521 M),
3). Raden Surowiyoto bin Raden Fatah (1521 – 1521 M) hanya 3 bulan,
4). Raden Trenggono bin Raden Fatah (1521 – 1546 M),
5). Pangeran Aria Rangga (Raden Prawoto) bin Trenggono (1546 – 1549 M),
6). Pangeran Cakra Buana bin Trenggono (1549-1564 M),
7). Raden Muhammad Aminuddin bin Raden Fatah (1564 – 1601 M), dan
8). Tumenggung Prayogo (Pelaksana Raja) tahun 1601 – 1616 M.
Di saat akhir kepemimpinan Tumenggung Prayogo pada tahun 1616 M/1025 H inilah, maka Kerajaan Demak Bintoro dianeksasi oleh Sultan Agung yang kemudian menjadi daerah bagian dari Kerajaan Mataram Islam yang berpusat di Kota Gede Yogyakarta.
Sehubungan Tumenggung Prayogo menolak menjadi Adipati Demak di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram Islam, maka Sultan Agung mengangkat Tumenggung Wiryonegoro sebagai Adipati Demak yang pertama dari tahun 1616-1656 M. Sejak Demak dipimpin oleh Tumenggung Wiryonegoro inilah, dapat dinyatakan bahwa Kerajaan Demak Bintoro telah berakhir, ungkapnya.
Adapun nama-nama Patih Mangkubumi (Perdana Menteri) di Kerajaan Demak Bintoro, yaitu:
1). Ronggo Toh Joyo atau populer dikenal dengan sebutan Mahesa Jenar yang nama santrinya Muhammad Zainal Abidin bin Syekh Hasan Ali Asror/Syekh Siti Jenar Demak (1475-1546 M),
2). Patih Wonosalam atau Pangeran Cakra Buana bin Trenggono (1546 – 1549 M),
3). Arya Widhi bin Senopati Kertasanjaya (1549 – 1567 M),
4). Arya Jipang Panolan (1567 – 1586 M),
5). Adipati Pragola ke-1 (1586 – 1601 M), dan
6). Tumenggung Prayogo (Pelaksana Patih Mangkubumi) tahun 1601 – 1616 M.
Nama-nama Panglima Perang Angkatan Laut di Kerajaan Demak Bintoro, yaitu:
Kemudian nama-nama Panglima Perang Angkatan Darat di Kerajaan Demak Bintoro, yaitu:
Kerajaan Demak Bintoro tambahnya, dalam melakukan perluasan wilayahnya, maka dibentuklah Devisi-devisi pertahanan Angkatan Laut di lokasi bandar-bandar Pelabuhan yang ada yang berjumlah 15 Devisi. Yang meliputi; 1. Devisi Sampang Madura, 2. Devisi Gresik dan Surabaya, 3. Devisi Tuban dan Lamongan, 4. Devisi Lasem, 5. Devisi Juwana, 6. Devisi Tedunan dan Jepara, 7. Devisi Muara Bonang Demak, 8. Devisi Teluk Samaran, 9. Devisi Ujungnegoro, 10. Devisi Tegal, 11. Devisi Cirebon, 12. Devisi Pulokalapa Karawang, 13. Devisi Sunda Kelapa, 14. Devisi Banten, dan 15. Devisi Palembang.
Pengirim: Soleh