Demak-NU Online Demak
“Seorang kader IPNU-IPPNU harus memiliki falsafah yang berakar pada nilai-nilai Ahlussunnah wal jama’ah (ASWAJA) dan prinsip dasar organisasi” prolog salah satu pemateri dan sekaligus senior IPPNU Ika
Ika menjelaskan dengan falsafah ini, kader NU diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa Islam yang ramah, rahmatan lil ‘alamin, serta menjaga keutuhan NKRI.
Hal tersebut dia jelaskan saat menjadi pemateri pada acara Latihan Instruktur (LATIN)- Latihan Pelatih (LATPEL) yang dilaksanakan PC IPNU IPPNU Kabupaten Demak pada hari Kamis-Ahad (20-23/02/2025) di Gedung BLK Karanganyar Demak yang diikuti kurang lebih 13 kader dari berbagai daerah maupun kota.
“Ada beberapa aspek dalam falsafah Agama pertama Tawassuth (moderat) sebagai kader NU diharapkan kita berada di tengah-tengah tidak mudah mengkafirkan orang, mengamalkan ajaran agama secara seimbang, menyikapi semua perbedaan dengan bijak bahkan mampu menyelesaikan konflik sosial dengan pendekatan damai dan musyawarah,” ungkap ika yang juga dosen IAIN Kudus.
Kedua lanjutnya Tasamuh (toleran) menurut Ika yang juga merupakan dosen IAIN Kudus kader NU harus bisa menghargai perbedaan baik dalam internal Islam maupun dengan kelompok lain, serta mengutamakan persatuan agar tidak mudah dicerai berai oleh oknum-oknum lain yang ingin merusak NU.
Ketiga Tawazun (seimbang) meskipun kita berkecimpung dalam ranah organisasi agama tapi sudah seyogyanya kita menjaga keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat, jangan hanya fanatik menegjar ilmu agama, tapi kita harus menguasai ilmu di dunia. Sebagaimana pesan Rasulullah SAW
من أراد الدنيا فعليه بالعلم ومن أراد الأخرة فعليه بالعلم ومن أرادهما فعليه بالعلم.
Artinya:
Barang siapa menginginkan kebaikan di dunia ini, hendaklah ia mencapainya dengan ilmu. Barang siapa menginginkan kebaikan di akhirat, maka ia harus mencapainya dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan keduanya, hendaklah mencari ilmu.
Yang keempat I’tidal (adil) bersikap adil dalam segala hal baik dalam hubungan sosial, politik, maupun keagamaan. Seperti halnya kita bisa menegakkan keadilan tanpa mencampurkan kepentingan pribadi, tidak menyebarkan hoaks atau fitnah yang bisa merugikan orang lain, mendukung pemimpin yang amanah dan adil tanpa fanatisme buta terhadap satu kelompok politik,“ Pungkas Ika.
Pengirim: Ika/Red