Foto: Ilustrasi NU Online Demak
Pada intinya semua ibadah yang dilakukan umat Islam adalah berdoa. Lalu, saat kita berdoa manakah yang lebih utama? dengan suara keras ataukah suara pelan?
Merujuk pada sumber terjemah kitab Durratun Nashihin dikatakan dalam Q.S Al-A’raf ayat 55:

اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةًۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ ٥
Artinya: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahlkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf: 55).
Berdasarkan tafsir yang ditulis dalam kitab Durratun Nashihin, maksud dari kalimat “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut” adalah sebagai orang-orang yang tunduk dan tidak bersuara keras, karena suara yang tidak keras itu menunjukkan keikhlasan.
Sementara, kalimat “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” yakni, yang melampaui apa yang diperintahkan kepada mereka dalam berdoa maupun yang lainnya.
Dalam hal ini dikatakan, Allah Swt memberikan peringatan, bahwa orang yang berdoa, sebaiknya tidak meminta hal-hal yang tidak wajar untuk dirinya, misalnya seperti pangkatnya ingin seperti nabi atau ingin naik ke langit.
Selanjutnya, ada pula yang mengatakan, melampaui batas yang dimaksud ialah berteriak-teriak dalam berdoa.
Ujar Nabi ﷺ: “Akan ada suatu kaum yang keterlaluan dalam berdoa. Padahal cukuplah orang yang mengucapkan : “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu surga dan apa yang mendekatkan kepadanya, berupa perkataan ataupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa-apa yang mendekatkan kepadanya, berupa perkataan atau pun perbuatan.”
Sementara dalam kitab Targhibatul Abrar bersumber dari dari Abu Hurairah Radiyallahu anhu (RA), Bahwa ia berkata: Rasulullah ﷺ. Bersabda;
“Ada tiga macam doa yang dikabulkan dan tidak diragukan lagi: doa orangtua untuk anaknya, doa orang yang berpergian, dan doa orang yang teraniaya.”
Kontributor: Ika/Red