Demak Sekitar

Ketua MPSD, Akhmad Nur Qosim; Historiografi Kolonial Harus Dievaluasi

Rohmad Sholeh
Penulis
49 Dilihat 0 Komentar
Ketua MPSD, Akhmad Nur Qosim; Historiografi Kolonial Harus Dievaluasi
Ketua MPSD, Akhmad Nur Qosim, saat menyampaikan sambutan pada kegiatan Jagong Sejarah (Foto NUO Demak/Rohmad Sholeh).

Kadilangu, NU Online Demak, - Historiografi Kolonial itu harus dievaluasi dan diganti dengan Historiografi Nasional dengan maksud agar narasi sejarah di Indonesia yang ada sesuai dengan narasi yang aslinya dan bukan berdasarkan rekayasa dari kolonial (penjajah).

Demikian disampaikan Ketua Masyarakat Pemerhati Sejarah Demak (MPSD), Akhmad Nur Qosim, pada saat kegiatan Jagong Sejarah Edisi Juli yang bertema “Sejarah Perjuangan Kanjeng Raden Said Sunan Kalijaga” yang dilaksanakan di Pendopo Notobratan, Kadilangu, Demak, Ahad Pahing (19/7/2026).

Ketua MPSD, Akhmad Nur Qosim, mengatakan narasi sejarah nasional banyak mengalami distorsi akibat pengaruh kolonialisme. Sekitar 70 hingga 80 persen narasi sejarah Indonesia (khususnya Demak) telah dimanipulasi oleh Belanda dan hal itu selama ini tidak disadari oleh masyarakat Indonesia.

“Historiografi atau karya-karya sejarah urai Nur Qosim, itu ada 3 jenis yaitu Historiografi Tradisional, Historiografi Kolonial dan Historiografi Nasional”.

Tugas kami lanjutnya, ingin mengubah Historiografi Kolonial menjadi Historiografi Nasional yang memihak kepentingan bangsa Indonesia. Dan ini sesuai amanat yang pernah disampaikan oleh Bapak sejarah Indonesia, Profesor Sartono Kartodirdjo.

Historiografi Kolonial sengaja disusun para pemikir Eropa terutama Belanda, salah satu produknya berupa naskah Babad dan Serat dengan maksud untuk mengaburkan nilai-nilai sejarah nasional dan menghilangkan jati diri bangsa Indonesia.

Kami merasa perlu meluruskan sejarah Indonesia terutama yang berkaitan Walisongo dan Kerajaan Demak Bintoro agar masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih utuh berdasarkan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan dan sesuai logika sejarah, tegasnya.

Belanda menjajah Indonesia tidak hanya mengeruk potensi ekonomi saja, akan tetapi juga ingin melemahkan bangsa Indonesia dengan cara menyembunyikan dan menghapus sejarah kita.

Ketua Yayasan Sunan Kalijaga Kadilangu, R. Kristiawan Saputra, menyampaikan terima kasih atas kehadiran semua pihak yang terlibat dalam kegiatan Jagong Sejarah. Pertemuan ini mari kita niatkan sebagai ajang silaturahmi diantara ulama, umaro’ dan masyarakat luas.

Ia menganggap bahwa forum ini merupakan awal perjuangan dalam rangka pelurusan narasi sejarah yang sesuai dengan kronologi peristiwanya. Hal ini penting dan perlu mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Demak agar kegiatan dapat berjalan secara berkesinambungan.

Kegiatan ini dihadiri anggota MPSD dan Forum Kajian Sejarah Kerajaan Demak Bintoro dan Walisongo, Dinas Pariwisata Demak, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Demak, Profesor Mustafid dari Undip Semarang, Padepokan Ilir-ilir Semarang, dan Komunitas Tirto Kusuma Demak, terangnya.

Selain itu juga dihadiri dzuriyah Sunan Pandanaran Semarang, Pemangku Makam Sunan Prawoto Pati, ahli waris Sunan Kalijaga di Semarang, Kudus, dan Temanggung. Dan dari badan otonom (banom) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Demak serta mahasiswa KKN Undip Semarang.

Kontributor: Rohmad Sholeh 

Bagikan:
Rohmad Sholeh
Rohmad Sholeh

Penulis lepas di NU Demak

Lihat Semua Tulisan

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar
Membalas komentar dari