Kadilangu, NU Online Demak, - Historiografi Kolonial itu harus dievaluasi dan diganti dengan Historiografi Nasional dengan maksud agar narasi sejarah di Indonesia yang ada sesuai dengan narasi yang aslinya dan bukan berdasarkan rekayasa dari kolonial (penjajah).
Demikian disampaikan Ketua Masyarakat Pemerhati Sejarah Demak (MPSD),
Akhmad Nur Qosim, pada saat kegiatan Jagong Sejarah Edisi Juli yang bertema
“Sejarah Perjuangan Kanjeng Raden Said Sunan Kalijaga” yang dilaksanakan di
Pendopo Notobratan, Kadilangu, Demak, Ahad Pahing (19/7/2026).
Ketua MPSD, Akhmad Nur Qosim, mengatakan narasi sejarah nasional
banyak mengalami distorsi akibat pengaruh kolonialisme. Sekitar 70 hingga 80
persen narasi sejarah Indonesia (khususnya Demak) telah dimanipulasi oleh
Belanda dan hal itu selama ini tidak disadari oleh masyarakat Indonesia.
“Historiografi atau karya-karya sejarah urai Nur Qosim, itu
ada 3 jenis yaitu Historiografi Tradisional, Historiografi Kolonial dan Historiografi
Nasional”.
Tugas kami lanjutnya, ingin mengubah Historiografi Kolonial
menjadi Historiografi Nasional yang memihak kepentingan bangsa Indonesia. Dan ini
sesuai amanat yang pernah disampaikan oleh Bapak sejarah Indonesia, Profesor
Sartono Kartodirdjo.
Historiografi Kolonial sengaja disusun para pemikir Eropa
terutama Belanda, salah satu produknya berupa naskah Babad dan Serat dengan
maksud untuk mengaburkan nilai-nilai sejarah nasional dan menghilangkan jati
diri bangsa Indonesia.
Kami merasa perlu meluruskan sejarah Indonesia terutama yang
berkaitan Walisongo dan Kerajaan Demak Bintoro agar masyarakat memperoleh
pemahaman yang lebih utuh berdasarkan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan
dan sesuai logika sejarah, tegasnya.
Belanda menjajah Indonesia tidak hanya mengeruk potensi
ekonomi saja, akan tetapi juga ingin melemahkan bangsa Indonesia dengan cara
menyembunyikan dan menghapus sejarah kita.
Ketua Yayasan Sunan Kalijaga Kadilangu, R. Kristiawan
Saputra, menyampaikan terima kasih atas kehadiran semua pihak yang terlibat
dalam kegiatan Jagong Sejarah. Pertemuan ini mari kita niatkan sebagai ajang silaturahmi
diantara ulama, umaro’ dan masyarakat luas.
Ia menganggap bahwa forum ini merupakan awal perjuangan dalam
rangka pelurusan narasi sejarah yang sesuai dengan kronologi peristiwanya. Hal
ini penting dan perlu mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Demak agar
kegiatan dapat berjalan secara berkesinambungan.
Kegiatan ini dihadiri anggota MPSD dan Forum Kajian Sejarah
Kerajaan Demak Bintoro dan Walisongo, Dinas Pariwisata Demak, Dinas Pendidikan
dan Kebudayaan Demak, Profesor Mustafid dari Undip Semarang, Padepokan
Ilir-ilir Semarang, dan Komunitas Tirto Kusuma Demak, terangnya.
Selain itu juga dihadiri dzuriyah Sunan Pandanaran Semarang, Pemangku Makam Sunan Prawoto Pati, ahli waris Sunan Kalijaga di Semarang, Kudus, dan Temanggung. Dan dari badan otonom (banom) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Demak serta mahasiswa KKN Undip Semarang.
Kontributor: Rohmad Sholeh
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar