Warga Demak

Pemkab Demak Apresiasi dan Dukung Kegiatan Jagong Sejarah

Rohmad Sholeh
Penulis
135 Dilihat 0 Komentar
Pemkab Demak Apresiasi dan Dukung Kegiatan Jagong Sejarah
Kepala Dinas Pariwisata Demak, Endah Cahya Rini, saat memberikan sambutan pada Jagong Sejarah (Foto NUO Demak/Rohmad Sholeh).

Kadilangu, NU Online DemakPemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak melalui Dinas Pariwisata (Dinparta) Kabupaten Demak mengapresiasi dan mendukung kegiatan Jagong Sejarah.

Hal itu disampaikan Kepala Dinparta Demak, Endah Cahya Rini, saat menghadiri kegiatan Jagong Sejarah dengan tema “Sejarah Perjuangan Kanjeng Raden Said Sunan Kalijaga” yang dilaksanakan di Pendopo Notobratan, Kadilangu, Demak, Ahad Pahing (19/7/2026).

Kepala Dinparta Demak, Endah Cahya Rini, mengapresiasi dan mendukung penuh kegiatan Jagong Sejarah ini yang diselenggarakan Masyarakat Pemerhati Sejarah Demak (MPSD) yang bekerjasama dengan Forum Kajian Sejarah Kerajaan Demak Bintoro dan Walisongo.

Jagong Sejarah kali ini luar biasa, kegiatan semacam ini biasanya peserta itu dari kalangan tua. Ternyata di forum ini pesertanya dari berbagai generasi dan juga banyak dihadiri kalangan muda, ini merupakan sebuah kebanggaan.

Pemkab Demak sangat mendukung penuh forum seperti ini, tegasnya. Karena forum diskusi semacam ini menuntut sebuah tanggungjawab moral besar yaitu menegakkan kebenaran sejarah mengenai rekam jejak perjuangan Kanjeng Sunan Kalijaga dan Walisongo.

Narasi sejarah Walisongo yang ada selama ini urainya, sering kali bercampur baur antara data ilmiah, cerita tutur, legenda dan mitos yang terkadang sulit dicerna dengan akal sehat. Ia berharap, kebenaran sejarah bisa terkuak dalam forum ini.

Pelurusan sejarah berbasis riset (penelitian) dan telaah manuskrip kuno se zaman harus digali untuk memisahkan sejarah yang bersumber dari cerita tutur, legenda, mitos dan lainnya agar terkuak fakta sejarah dan terhindar dari hoaks (informasi bohong), lanjutnya.  

“Masyarakat berhak memperoleh informasi sejarah yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan”, kata Endah.

Sejarah yang disampaikan ke masyarakat harus berdasarkan kebenaran. Kisah-kisah sejarah juga perlu dikemas dengan metode yang menarik agar melekat di hati generasi muda.

Menurutnya, forum seperti Jagong Sejarah diharapkan dapat menjadi rujukan informasi sejarah yang kredibel, sekaligus memperkuat edukasi sejarah bagi masyarakat.

Ketua MPSD, Akhmad Nur Qosim, mengatakan bahwa banyak narasi sejarah Nusantara mengalami distorsi akibat pengaruh kolonialisme, 70 sampai 80 persen narasi sejarah (khususnya Demak) telah dimanipulasi oleh Belanda dan selama ini tidak disadari oleh masyarakat Indonesia.

Sumber sejarah terkait Walisongo dan Kerajaan Demak yang  menjadi rujukan sejumlah penulis selama ini adalah Babad dan Serat. Padahal naskah itu menuliskan kisah yang tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta sejarah karena terdapat banyak narasi yang anakronisme atau tidak sesuai dengan peristiwa sejarah masa lalu, jelasnya.

Kami merasa perlu meluruskan sejarah Walisongo dan Kerajaan Demak agar masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih utuh berdasarkan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan. Babad, Serat dan buku-buku yang disusun era penjajahan Belanda di zaman Mataram Islam produknya merupakan Historiografi Kolonial, tegas Nur Qosim.

Historiografi Kolonial sengaja disusun para pemikir Eropa terutama Belanda untuk mengaburkan dan menghilangkan nilai-nilai sejarah nasional. Menurut Bapak sejarah Indonesia, Profesor Sartono Kartodirdjo, bahwa Historiografi Kolonial itu harus dievaluasi dan diganti dengan Historiografi Nasional agar sejarah Indonesia sesuai dengan narasi yang semestinya.

Sejarah itu sangat penting bagi sebuah bangsa agar tidak lupa akan jati dirinya. Belanda menjajah Indonesia tidak hanya mengeruk potensi ekonomi saja, tetapi juga ingin melemahkan bangsa Indonesia dengan cara menyembunyikan dan menghapus sejarah nasional kita, pungkasnya. 

Kontributor: Rohmad Sholeh

Bagikan:
Rohmad Sholeh
Rohmad Sholeh

Penulis lepas di NU Demak

Lihat Semua Tulisan

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar
Membalas komentar dari