Kadilangu, NU Online Demak, - Sesepuh Ahli Waris Sunan Kalijaga, H. R. Muhammad Cahyo Imam Santoso, berharap kegiatan Jagong Sejarah yang digagas oleh Masyarakat Pemerhati Sejarah Demak (MPSD) dan Forum Kajian Sejarah Kerajaan Demak Bintoro manjadi upaya untuk meluruskan sejarah tentang Kerajaan Demak Bintoro dan Walisongo khususnya terkait Sunan Kalijaga.
Hal itu disampaikan H. R. Muhammad Cahyo Imam Santoso saat
menghadiri kegiatan Jagong Sejarah yang bertajuk “Sejarah Perjuangan Kanjeng
Raden Said Sunan Kalijaga” di Pendopo Notobratan, Kadilangu, Demak, Ahad Pahing
(19/7/2026).
Selama ini jelasnya, literasi dan narasi sejarah tentang
Sunan Kalijaga sangat bervariasi. Sebagai contoh, narasi terkait usia Sunan
Kalijaga ada beberapa informasi. Ada yang menyebut usia Sunan Kalijaga itu 135
tahun, ada yang mengatakan 130 tahun, dan juga ada yang menyatakan 115 tahun.
Dari narasi usia Sunan Kalijaga yang bervariasi itu, maka
harus ditemukan sumber yang pakem agar tidak terjadi debatable (ketidakpastian)
dan kesimpang siuran informasi terus menerus dan sejarah perjuangan Sunan
Kalijaga tidak akan terputus, lanjutnya.
Ia menghendaki para peneliti dan pemerhati sejarah Sunan
Kalijaga dapat berkumpul menjadi satu untuk berdiskusi membincang narasi
sejarah secara komprehensif menentukan kepastian sejarah Sunan Kalijaga.
Peneliti Sejarah Kerajaan Demak Bintoro dan Walisongo, Ahmad
Kastono Abdullah Hasan, dalam paparannya menyampaikan bahwa Sunan Kalijaga
lahir di Tuban tahun 1433 M/836 H dari Ibu bernama Putri Dharawati binti Sayyid
Jamaluddin Husein (Tosora) dan ayah bernama Aryo Tejo, Tumenggung Wilwatikta
(Adipati Tuban).
Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Sanjaya, kemudian
menginjak usia 15 tahun namanya diganti oleh Syekh Abdullah Hasan Bakem Al
Maghribi menjadi Abdullah Sa’id atas izin orang tuanya saat menjadi santri di
Pesantren Bonang Demak, jelas AKA Hasan sapaan akrab Ahmad Kastono Abdullah
Hasan.
Setelah belajar di Pesantren Bonang Demak selama 8 tahun
(1448-1456 M/852-860 H) lanjutnya, kemudian Sunan Kalijaga melanjutkan belajar
di Pesantren Kadilangu sejak tahun 1456 M (860 H) sampai tahun 1472 M(877 H). Pada
tahun 1480 M (885 H), Sunan Kalijaga ditunjuk menjadi Pimpinan Pesantren
Kadilangu hingga tahun 1576 M (984 H).
Menurut AKA Hasan, Sunan Kalijaga menjadi anggota Walisongo
sejak berdirinya Dewan Walisongo tahun 1466 M (870 H) sampai tahun 1576 M (984
H) selama 110 tahun. Dan pernah menjadi Ketua Dewan Walisongo selama 73 tahun dari
tahun 1503 M sampai 1576 M (909-984 H) menggantikan Syekh Siti Jenar Demak (Syekh
Hasan Ali Asror bin Syekh Maulana Maghribi Demak).
Sunan Kalijaga tidak pernah menjadi perampok apalagi sampai
bergelar Brandal Lokajaya. Sebab sejak usia 0-9 tahun ia diasuh ibunya sendiri di
Kraton Kadipaten Tuban, usia 9-14 tahun belajar di Palang (Gisikharjo Tuban)
dalam asuhan Syekh Ibrahim Asmoroqondi. Kemudian di usia 15-23 tahun ia belajar
di Pesantren Bonang Demak, dan usia 24-32 tahun belajar di Pesantren Kadilangu
Demak, tegas AKA Hasan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar