Demak Sekitar

Sesepuh Ahli Waris Sunan Kalijaga, Jadikan Jagong Sejarah sebagai Upaya Pelurusan Sejarah

Rohmad Sholeh
Penulis
92 Dilihat 0 Komentar
Sesepuh Ahli Waris Sunan Kalijaga, Jadikan Jagong Sejarah sebagai Upaya Pelurusan Sejarah
Sesepuh Ahli Waris Sunan Kalijaga, H. R. Muhammad Cahyo Imam Santoso, saat memberikan sambutan pada kegiatan Jagong Sejarah (Foto NUO Demak/Rohmad Sholeh).

Kadilangu, NU Online Demak, - Sesepuh Ahli Waris Sunan Kalijaga, H. R. Muhammad Cahyo Imam Santoso, berharap kegiatan Jagong Sejarah yang digagas oleh Masyarakat Pemerhati Sejarah Demak (MPSD) dan Forum Kajian Sejarah Kerajaan Demak Bintoro manjadi upaya untuk meluruskan sejarah tentang Kerajaan Demak Bintoro dan Walisongo khususnya terkait Sunan Kalijaga.

Hal itu disampaikan H. R. Muhammad Cahyo Imam Santoso saat menghadiri kegiatan Jagong Sejarah yang bertajuk “Sejarah Perjuangan Kanjeng Raden Said Sunan Kalijaga” di Pendopo Notobratan, Kadilangu, Demak, Ahad Pahing (19/7/2026).

Selama ini jelasnya, literasi dan narasi sejarah tentang Sunan Kalijaga sangat bervariasi. Sebagai contoh, narasi terkait usia Sunan Kalijaga ada beberapa informasi. Ada yang menyebut usia Sunan Kalijaga itu 135 tahun, ada yang mengatakan 130 tahun, dan juga ada yang menyatakan 115 tahun.

Dari narasi usia Sunan Kalijaga yang bervariasi itu, maka harus ditemukan sumber yang pakem agar tidak terjadi debatable (ketidakpastian) dan kesimpang siuran informasi terus menerus dan sejarah perjuangan Sunan Kalijaga tidak akan terputus, lanjutnya.

Ia menghendaki para peneliti dan pemerhati sejarah Sunan Kalijaga dapat berkumpul menjadi satu untuk berdiskusi membincang narasi sejarah secara komprehensif menentukan kepastian sejarah Sunan Kalijaga.

Peneliti Sejarah Kerajaan Demak Bintoro dan Walisongo, Ahmad Kastono Abdullah Hasan, dalam paparannya menyampaikan bahwa Sunan Kalijaga lahir di Tuban tahun 1433 M/836 H dari Ibu bernama Putri Dharawati binti Sayyid Jamaluddin Husein (Tosora) dan ayah bernama Aryo Tejo, Tumenggung Wilwatikta (Adipati Tuban).

Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Sanjaya, kemudian menginjak usia 15 tahun namanya diganti oleh Syekh Abdullah Hasan Bakem Al Maghribi menjadi Abdullah Sa’id atas izin orang tuanya saat menjadi santri di Pesantren Bonang Demak, jelas AKA Hasan sapaan akrab Ahmad Kastono Abdullah Hasan.

Setelah belajar di Pesantren Bonang Demak selama 8 tahun (1448-1456 M/852-860 H) lanjutnya, kemudian Sunan Kalijaga melanjutkan belajar di Pesantren Kadilangu sejak tahun 1456 M (860 H) sampai tahun 1472 M(877 H). Pada tahun 1480 M (885 H), Sunan Kalijaga ditunjuk menjadi Pimpinan Pesantren Kadilangu hingga tahun 1576 M (984 H).

Menurut AKA Hasan, Sunan Kalijaga menjadi anggota Walisongo sejak berdirinya Dewan Walisongo tahun 1466 M (870 H) sampai tahun 1576 M (984 H) selama 110 tahun. Dan pernah menjadi Ketua Dewan Walisongo selama 73 tahun dari tahun 1503 M sampai 1576 M (909-984 H) menggantikan Syekh Siti Jenar Demak (Syekh Hasan Ali Asror bin Syekh Maulana Maghribi Demak).

Sunan Kalijaga tidak pernah menjadi perampok apalagi sampai bergelar Brandal Lokajaya. Sebab sejak usia 0-9 tahun ia diasuh ibunya sendiri di Kraton Kadipaten Tuban, usia 9-14 tahun belajar di Palang (Gisikharjo Tuban) dalam asuhan Syekh Ibrahim Asmoroqondi. Kemudian di usia 15-23 tahun ia belajar di Pesantren Bonang Demak, dan usia 24-32 tahun belajar di Pesantren Kadilangu Demak, tegas AKA Hasan.

Sunan Kalijaga wafat di Demak tahun 1576 M/984 H dalam usia 143 tahun, makamnya berada di kompleks makam Kadilangu, Demak.
Kontributor: Rohmad Sholeh 
Bagikan:
Rohmad Sholeh
Rohmad Sholeh

Penulis lepas di NU Demak

Lihat Semua Tulisan

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar
Membalas komentar dari