Berita NU

SD Unggulan Muslimat NU Kudus Gelar Sosialisasi Wali Murid dan Seminar Parenting

Rohmad Sholeh
Penulis
22 Dilihat 0 Komentar
SD Unggulan Muslimat NU Kudus Gelar Sosialisasi Wali Murid dan Seminar Parenting
Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Enterprener Ar Ridwan Wonosobo, KH. Abdullah Maksum, saat menyampaikan paparan materi (Foto NUO Demak/dok).

Kudus, NU Online Demak, - Sekolah Dasar (SD) Unggulan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kudus menggelar kegiatan Sosialisasi Wali Murid dan Seminar Parenting. Kegiatan yang bertema “Langkah Bijak Orang Tua dalam Mewujudkan Anak yang Sholih dan Sholihah” itu dilaksanakan di Auditorium Kampus Universitas Muria Kudus (UMK), Sabtu (25/7/2026) dengan menghadirkan KH. Abdullah Maksum sebagai narasumber utama.

Kepala SD Unggulan Muslimat NU Kudus, Farid Widjil Mubarok, menyampaikan bahwa setiap orang tua tentu mendambakan putra-putrinya tumbuh menjadi anak yang saleh dan salehah. Untuk mewujudkan harapan itu, tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan di sekolah, tetapi diperlukan kolaborasi dan kerja sama yang erat antara orang tua, guru, dan pihak sekolah dalam mendidik, mendampingi, serta mengawasi perkembangan anak.

Tantangan dalam mendidik anak pada era saat ini semakin kompleks, jelasnya. Tidak jarang seorang anak menunjukkan perilaku yang baik di rumah, tetapi belum tentu berperilaku sama di sekolah. Sebaliknya, ada pula anak yang tampak baik di sekolah, namun berbeda ketika berada di rumah. Oleh karena itu, komunikasi dan sinergi antara orang tua dengan pihak sekolah menjadi sangat penting agar pembinaan terhadap anak dapat berjalan secara berkesinambungan.

Ia juga mengingatkan beberapa tantangan yang dihadapi anak-anak saat ini, di antaranya dalam memilih teman bergaul serta penggunaan telepon genggam (HP) yang belum disesuaikan dengan kebutuhan dan usia anak.

“Orang tua diharapkan memberikan pendampingan dan pengawasan agar anak tidak terpengaruh oleh hal-hal yang dapat menghambat perkembangan karakter, akhlak, maupun masa depannya”, tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Farid menekankan pentingnya menanamkan kecintaan terhadap ilmu sejak usia dini. Ia mengutip nasihat Imam Asy-Syafi'i rahimahullah, yang berbunyi: "Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar sesaat, maka ia harus menanggung pahitnya kebodohan sepanjang hidupnya".

Melalui nasihat tersebut, ia mengajak seluruh orang tua untuk terus memotivasi putra-putrinya agar memiliki semangat belajar, mencintai ilmu, serta bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu sebagai bekal menjalani kehidupan.

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Enterprener Ar Ridwan Wonosobo, KH. Abdullah Maksum, dalam paparannya menyampaikan bahwa orang-orang hebat pada umumnya lahir dari keluarga yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan anak-anaknya.

Ia memberikan contoh nyata anak berprestasi, di antaranya Bisma dari Kudus. Bisma yang pada usia masih sangat muda telah mampu menghafalkan Al-Qur'an 30 juz, kitab Bulughul Maram, kitab Riyadhus Shalihin, dan kitab Alfiyah Ibnu Malik.

Ada lagi, Ubaidillah Rayan Azrai dari Jawa Timur, pada usia 13 tahun ia telah mampu mensyarahi (memberikan penjelasan) kitab karya Imam Al-Ghazali, yaitu Minhajul Abidin, kitab tasawuf yang fenomenal dengan Ihya' Ulumuddin.

Pada dasarnya urai KH. Abdullah Maksum, setiap anak membutuhkan tiga jenis pendidik. Dalam hal ini, orang tua dapat menjalankan ketiga peran tersebut, yaitu:

Pertama, orang tua berperan sebagai Syaikhunat Ta'lim. Ini fokus pada pengembangan kemampuan akademik anak, yaitu membimbing dan memberikan bekal ilmu pengetahuan. Kedua, Syaikhunat Tarbiyah, fokus pada proses pembentukan karakter, meliputi: pendidikan akhlak mahmudah, pembiasaan perilaku positif, penanaman nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian ketiga Syaikhunat Tarqiyah. Fokus pada pembinaan spiritual anak, yaitu: membersihkan jiwa, memurnikan keimanan, menguatkan akidah kepada Allah SWT.

Pada dasarnya, orang tua tidak hanya bertugas mendidik anak agar cerdas secara akademik, tetapi juga bertanggung jawab membentuk karakter yang mulia serta membimbing perkembangan spiritualnya. Ketiga aspek tersebut harus berjalan secara seimbang agar lahir generasi yang berilmu, berakhlak, dan memiliki keimanan yang kuat, pungkasnya.

Salah satu Wali Murid SD Unggulan Muslimat NU Kudus yang hadir, Suhartini, mengatakan bahwa kegiatan ini memberikan pemahaman dan motivasi yang sangat berarti baginya sebagai orang tua. Kegiatan ini menyadarkannya bahwa keberhasilan pendidikan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif orang tua dalam mendidik, mendampingi, membimbing, serta mengawasi perkembangan anak di rumah.

Materi yang disampaikan oleh narasumber semakin menguatkan keyakinannya bahwa komunikasi dan kerja sama yang baik antara orang tua dan pihak sekolah merupakan kunci dalam membentuk karakter, akhlak, dan prestasi anak.

Di tengah berbagai tantangan zaman, seperti pergaulan dan penggunaan teknologi digital, orang tua dituntut untuk lebih bijaksana dalam memberikan pendampingan, menjadi teladan, serta menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung tumbuh kembang anak, katanya.

Melalui kegiatan ini, ia semakin yakin bahwa anak-anak akan lebih mudah meraih cita-cita dan tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan salehah apabila terdapat sinergi yang harmonis antara keluarga dan sekolah.

Ia berharap kegiatan semacam ini dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan karena memberikan manfaat yang besar dalam meningkatkan wawasan dan kesadaran orang tua mengenai pentingnya peran keluarga sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anak.
Pengirim: Suhartini
Kontributor : Rohmad Sholeh
Bagikan:
Rohmad Sholeh
Rohmad Sholeh

Penulis lepas di NU Demak

Lihat Semua Tulisan

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar
Membalas komentar dari