Oleh: Akhmad Nur Qosim
Istilah historis 'Londo Ireng' atau Belanda Hitam mendadak
menjadi perbincangan publik setelah Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo
Subianto menyentil keberadaan pihak-pihak yang dinilainya lebih mengabdi pada
kepentingan asing. Dalam pidatonya di peringatan Hari Lahir ke-28 PKB, Presiden
Prabowo menyinggung bahwasanya narasi destruktif yang kerap dihembuskan oknum
tertentu layaknya jejak Londo Ireng di masa pergerakan, yang kini hadir dengan
"baju" dan kemasan modern.
Secara historis, akar keberadaan Londo Ireng bermula pada era
kolonialisme abad ke-19. Setelah Perang Jawa (1825–1830 M) yang menguras tenaga
dan biaya Kerajaan Belanda, pemerintah kolonial mulai merekrut tentara dari
Afrika Barat pada era 1830-an. Langkah ini diambil guna memperkuat kembali
barisan militer Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL).
Selain kebutuhan pasukan dalam jumlah besar untuk mengamankan
wilayah jajahan, tingginya angka kematian tentara Eropa akibat penyakit tropis
mendorong Belanda mencari alternatif prajurit yang dinilai lebih tahan terhadap
iklim Nusantara.
Para prajurit asal Afrika ini kemudian dikenal secara resmi
sebagai Zwarte Hollanders (Belanda Hitam), yang oleh masyarakat lokal Jawa
dijuluki sebagai Londo Ireng. Mereka diberi status hukum dan fasilitas yang
relatif setara dengan tentara Eropa saat bertugas di Hindia Belanda.
Namun, seiring berjalannya waktu dan berkecamuknya perlawanan
kemerdekaan, istilah Londo Ireng mengalami pergeseran makna yang cukup
signifikan. Diksi tersebut bertransformasi menjadi label peyoratif bagi warga
pribumi yang dianggap berpihak pada kekuasaan kolonial Belanda, menjadi
mata-mata, atau bertindak sebagai antek asing yang melawan pergerakan bangsanya
sendiri
Istilah Londo Ireng (Belanda Hitam) atau secara resmi disebut
Zwarte Hollanders menempati posisi unik dalam lembaran sejarah kolonial
Indonesia. Kehadiran mereka bukan sekadar episode singkat pasca Perang Jawa,
melainkan bagian dari strategi militer jangka panjang Kerajaan Belanda di
Hindia Belanda yang berlangsung hingga abad ke-20.
Perekrutan prajurit Afrika Barat dimulai secara masif pada
rentang 1831 M hingga 1872 M. Kala itu, Belanda menghadapi dua krisis besar
sekaligus: kehancuran finansial serta merosotnya jumlah personel militer pasca Perang
Jawa (1825–1830 M), serta tingginya angka kematian tentara Eropa akibat penyakit
tropis seperti malaria dan demam berdarah.
Untuk menambal kekuatan Tentara Kerajaan Hindia Belanda
(KNIL), Belanda membuat kesepakatan dengan Raja Ashanti di wilayah Ghana
(Elmina) dan Pantai Gading. Sekitar 3.000 hingga 4.000 pemuda Afrika direkrut
dan dikirim menggunakan kapal mengarungi Samudra Hindia menuju Nusantara.
Setelah tiba di Batavia (Jakarta), para serdadu Afrika ini
menjalani pelatihan militer intensif sebelum diredistribusikan ke berbagai
benteng strategis KNIL di seluruh pelosok Nusantara:
Pusat Garnisun Jawa Tengah (Purworejo dan Surakarta): Purworejo
menjadi pemukiman utama dan markas besar keluarga prajurit Afrika. Wilayah ini
bahkan sempat memiliki kawasan pemukiman khusus yang dikenal sebagai
Afrikanenbuurt (Kampung Afrika).
Ekspedisi Militer Luar Jawa: Karena reputasi fisik mereka
yang kuat serta ketahanan tubuh di medan tropis, pasukan Londo Ireng
diterjunkan dalam berbagai konfrontasi bersenjata besar, seperti Perang Padri
di Sumatra Barat, Perang Bali, hingga Perang Aceh yang berdarah-darah di akhir
abad ke-19.
Penulis: Akhmad Nur Qosim, Ketua Masyarakat Pemerhati Sejarah
Demak (MPSD) Periode 2026-2031.
Editor: Rohmad Sholeh
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar