Opini

Peristiwa Serangan Portugis ke Demak yang Terhapus oleh Sejarah

87 Dilihat 0 Komentar
Peristiwa Serangan Portugis ke Demak yang Terhapus oleh Sejarah

Oleh: Akhmad Nur Qosim

NU Online Demak, -  History is written by the victors yang memiliki pengertian, bahwa sejarah adalah catatan politik masa lalu yang ditulis oleh pemenang. Kalimat itu belum jelas siapa yang menciptakan. Namun kalimat itu sering diucapkan oleh Wiston Churchill (P.M. Inggris era Perang Dunia) yang mengutip dari Jawaharlal Nehru (P.M. India). Kalimat tersebut rupanya telah terbukti ketika menarasikan sejarah Kerajaan Demak Bintoro dan Walisongo. Kerajaan Demak sebagai pihak yang kalah dari Mataram Islam sejak tahun 1601 M selalu mengalami pembelokan dan penghapusan sejarah terutama pada era Kolonial Belanda. Catatan sejarah yang berkaitan dengan konflik politik dan militer selalu ditulis secara tidak adil. Ada bagian-bagian penting dari sejarah Kerajaan Demak Bintoro dan Walisongo yang mengalami penghapusan, distorsi, dan pembelokan narasi yang disesuaikan dengan kepentingan penguasa kolonial pada saat itu. Apabila hal ini dibiarkan dan tidak diadakan koreksi, maka dikhawatirkan akan terjadi krisis identitas, lemahnya nasionalisme, dan hilangnya memori kolektif di kalangan masyarakat.


Berkaiatan dengan konflik antara Portugis dengan Kerajaan Demak, selama ini sejarah hanya mencatat serangan Demak ke Portugis di Malaka pada tahun 1513 M dan serangan Demak ke Portugis di Sunda kelapa tahun 1526 M dan 1527 M. Dengan narasi seperti ini menimbulkan kesan seolah-olah Demak merupakan kerajaan yang ambisius dan ofensif terhadap Portugis. Sejarah lupa mencatat, bahwa kedatangan Portugis ke nusantara membawa dendam politik akibat jatuhnnya kota Acre pada tahun 1291 M yang mengusir kekuasaan Kristen dari tanah suci dan jatuhnya kota Konstantinople 1453 M dari kekaisaran Romawi Timur ke tangan Turki Ottoman di bawah Sultan Mahmed II. Maka sejak pelarian para imigran Bani Ahmar dari Maghribi Spanyol, maka kedatangan portugis ke nusantara memiliki misi berlapis, yakni mencari rempah-rempah sambil mengkristenkan nusantara dengan semboyan Gold (mencari kekayaan), Gospel (menyebarkan agama Kristen), dan Glory (mencari kejayaan).


Namun sepertinya sejarah sengaja menyembunyikan fakta tentang serangan Portugis ke ibu kota Kerajaan Demak. Padahal serangan itu terjadi beberapa kali, yakni  tahun 1543 M/ 950 H dan tahun 1564 M/ 971 H. Peristiwa itu oleh A.K.A. Hasan (Sejarawan Kerajaan Demak Bintoro dan Walisongo) disebut dengan Peristiwa Pralaya I dan II. Peristiwa Pralaya I ditandai Portugis yang menyerang melalui jalur sungai Tuntang. Memang pada saat itu Laut Jawa dan jalur sungai Tuntang menjadi satu-satunya akses masuk dan keluar dari Demak. Dalam peristiwa itu gugur para pejuang-pejuang dari Demak, misalnya 1) Laksamana Joyohadikusumo bin Sunan Kalijaga (Keluarga Kasepuhan Kadilangu menyebutnya dengan Panembahan Hadi). Laksamana Joyohadikusumo pada saat serangan terjadi menjabat sebagai panglima perang Angkatan Laut ke-3 Kerajaan Demak Bintoro (1536-1543 M), menggantikan panglima ke-2 Laksamana Abdurrahman Singkil (1496-1536 M) dan panglima ke-1 Laksamana Aria Damar tahun 1475-1496 M. Kemudian yang ke-2 gugur adalah Syekh Brojodento (Teuku Muhammad Thoha bin Senopati Muntolab bin syekh Abdurrahman Teuku Baha atau Sunan Drajad ke-1). Pada saat serangan terjadi, beliau menjabat sebagai Panglima Perang Angkatan Darat Kerajaan Demak Bintoro yang ke-4 (1525-1543 M). Keduanya gugur akibat tertembak bom meriam Portugis.


Kedua tokoh tersebut beserta pasukannya sebenarnya sudah berusaha sekuat tenaga menghadang kedatangan pasukan Portugis melalui jalur sungai, namun karena tentara Portugis dilengkapi senjata meriam yang cukup modern, maka kedua tokoh itu beserta banyak pasukannya gugur.  Para pejuang yang gugur kemudian dimakamkan di Komplek Mega Mendung (Masyarakat menyebutnya sebagai Sawah Mendung). Lokasi itu sekarang dibangun Gedung RSUD Sunan Kalijaga Demak. Adapun Laksamana Joyohadikusumo dimakamkan di Komplek Pemakaman Kadilangu.


Setelah gugurnya kedua tokoh tersebut, kemudian pasukan diambil alih oleh Mahesa Jenar atau Ronggo Tohjoyo (Muhammad Zainal Abidin bin Hasan Ali Asror bin Syekh Mudhofar Malik Hasa Al-Maghribi) yang pada saat terjadinya serangan itu beliau menjabat sebagai Patih Mangkubumi Kerajaan Demak Bintoro. Setelah pengambilalihan kepemimpinan itu, maka serangan Portugis dan semua kapalnya dapat dihancurkan oleh pasukan Demak. Hanya disisakan satu kapal yang ditumpangi seorang tokoh Portugis yang bernama Mendez Pinto untuk dipulangkan ke Selat Malaka.


Kemudian Peristiwa Paralaya II yang terjadi pada tahun 1564 M. Melalui informasi dan kerja sama dengan orang dalam, Portugis  berhasil membantai Pangeran Cakra Buana bin Raden Trenggono atau yang dikenal dengan Patih Wonosalam. Beliau menjadi Raja Demak tahun 1564-1601 M. Dalam pembantaian itu, Portugis juga berhasil membantai seluruh keluarga Patih Wonosalam, kecuali anak tertuanya yang bernama Raden Muhammad Arsyad Alawi yang berhasil meloloskan diri dan ditolong oleh Ki Demang Alap-alap (Kepala prajurit telik sandi) dengan menunggang kuda yang bernama Gagakrimang. Akhirnya Raden Muhammad Arsyad Alawi dititipkan ke Syekh Saridin (Syarifudin Said bin Raden Said bin Sunan Kalijaga) dan tinggal bersama di Pati hingga wafat.


Dalam peristiwa Pralaya ini tentu yang sangat disesalkan adalah terjadinya pengkhianatan dari dalam. Ternyata Portugis berhasil menyuap dan bekerjasama dengan dua tokoh penting orang dalam kerajaan dari keluarga Raden Fatah sendiri. Tidak tanggung-tanggung pengkhianatan itu dilakukan oleh dua orang tokoh penting, seorang pasangan suami istri dalam sejarah Kerajaan Demak Bintoro yang bernama MK dan RKN. Hingga kini belum semua sejarah Demak terungkap. Masih banyak informasi sejarah yang dihapus dan diputarbalikkan. Kita sebagai generasi penerus Demak punya kewajiban untuk meluruskan sejarah Demak yang sesuai dengan peristiwanya yang obyektif. Kalau bukan sekarang, mau kapan lagi. Kalau bukan kita mau siapa lagi.


Penulis: Akhmad Nur Qosim, Ketua Masyarakat Pemerhati Sejarah Demak (MPSD) Periode 2026-2031.

Editor: Rohmad Sholeh
Bagikan:
 Akhmad Nur Qosim
Akhmad Nur Qosim

Penulis lepas di NU Demak

Lihat Semua Tulisan

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar
Membalas komentar dari