Oleh: Akhmad Nur Qosim
NU Online Demak, - History is written by the victors yang memiliki pengertian, bahwa sejarah adalah catatan politik masa lalu yang ditulis oleh pemenang. Kalimat itu belum jelas siapa yang menciptakan. Namun kalimat itu sering diucapkan oleh Wiston Churchill (P.M. Inggris era Perang Dunia) yang mengutip dari Jawaharlal Nehru (P.M. India). Kalimat tersebut rupanya telah terbukti ketika menarasikan sejarah Kerajaan Demak Bintoro dan Walisongo. Kerajaan Demak sebagai pihak yang kalah dari Mataram Islam sejak tahun 1601 M selalu mengalami pembelokan dan penghapusan sejarah terutama pada era Kolonial Belanda. Catatan sejarah yang berkaitan dengan konflik politik dan militer selalu ditulis secara tidak adil. Ada bagian-bagian penting dari sejarah Kerajaan Demak Bintoro dan Walisongo yang mengalami penghapusan, distorsi, dan pembelokan narasi yang disesuaikan dengan kepentingan penguasa kolonial pada saat itu. Apabila hal ini dibiarkan dan tidak diadakan koreksi, maka dikhawatirkan akan terjadi krisis identitas, lemahnya nasionalisme, dan hilangnya memori kolektif di kalangan masyarakat.
Berkaiatan
dengan konflik antara Portugis dengan Kerajaan Demak, selama ini sejarah hanya
mencatat serangan Demak ke Portugis di Malaka pada tahun 1513 M dan serangan
Demak ke Portugis di Sunda kelapa tahun 1526 M dan 1527 M. Dengan narasi
seperti ini menimbulkan kesan seolah-olah Demak merupakan kerajaan yang ambisius
dan ofensif terhadap Portugis. Sejarah lupa mencatat, bahwa kedatangan Portugis
ke nusantara membawa dendam politik akibat jatuhnnya kota Acre pada tahun 1291 M
yang mengusir kekuasaan Kristen dari tanah suci dan jatuhnya kota
Konstantinople 1453 M dari kekaisaran Romawi Timur ke tangan Turki Ottoman di
bawah Sultan Mahmed II. Maka sejak pelarian para imigran Bani Ahmar dari
Maghribi Spanyol, maka kedatangan portugis ke nusantara memiliki misi berlapis,
yakni mencari rempah-rempah sambil mengkristenkan nusantara dengan semboyan Gold (mencari kekayaan), Gospel (menyebarkan agama Kristen), dan Glory (mencari kejayaan).
Namun
sepertinya sejarah sengaja menyembunyikan fakta tentang serangan Portugis ke
ibu kota Kerajaan Demak. Padahal serangan itu terjadi beberapa kali, yakni tahun 1543 M/ 950 H dan tahun 1564 M/ 971 H. Peristiwa
itu oleh A.K.A. Hasan (Sejarawan Kerajaan Demak Bintoro dan Walisongo) disebut
dengan Peristiwa Pralaya I dan II. Peristiwa Pralaya I ditandai Portugis yang
menyerang melalui jalur sungai Tuntang. Memang pada saat itu Laut Jawa dan
jalur sungai Tuntang menjadi satu-satunya akses masuk dan keluar dari Demak.
Dalam peristiwa itu gugur para pejuang-pejuang dari Demak, misalnya 1) Laksamana
Joyohadikusumo bin Sunan Kalijaga (Keluarga Kasepuhan Kadilangu menyebutnya
dengan Panembahan Hadi). Laksamana Joyohadikusumo pada saat serangan terjadi menjabat
sebagai panglima perang Angkatan Laut ke-3 Kerajaan Demak Bintoro (1536-1543 M),
menggantikan panglima ke-2 Laksamana Abdurrahman Singkil (1496-1536 M) dan
panglima ke-1 Laksamana Aria Damar tahun 1475-1496 M. Kemudian yang ke-2 gugur adalah
Syekh Brojodento (Teuku Muhammad Thoha bin Senopati Muntolab bin syekh Abdurrahman
Teuku Baha atau Sunan Drajad ke-1). Pada saat serangan terjadi, beliau menjabat
sebagai Panglima Perang Angkatan Darat Kerajaan Demak Bintoro yang ke-4
(1525-1543 M). Keduanya gugur akibat tertembak bom meriam Portugis.
Kedua
tokoh tersebut beserta pasukannya sebenarnya sudah berusaha sekuat tenaga
menghadang kedatangan pasukan Portugis melalui jalur sungai, namun karena
tentara Portugis dilengkapi senjata meriam yang cukup modern, maka kedua tokoh
itu beserta banyak pasukannya gugur.
Para pejuang yang gugur kemudian dimakamkan di Komplek Mega Mendung (Masyarakat
menyebutnya sebagai Sawah Mendung). Lokasi itu sekarang dibangun Gedung RSUD
Sunan Kalijaga Demak. Adapun Laksamana Joyohadikusumo dimakamkan di Komplek
Pemakaman Kadilangu.
Setelah
gugurnya kedua tokoh tersebut, kemudian pasukan diambil alih oleh Mahesa Jenar
atau Ronggo Tohjoyo (Muhammad Zainal Abidin bin Hasan Ali Asror bin Syekh Mudhofar
Malik Hasa Al-Maghribi) yang pada saat terjadinya serangan itu beliau menjabat
sebagai Patih Mangkubumi Kerajaan Demak Bintoro. Setelah pengambilalihan kepemimpinan
itu, maka serangan Portugis dan semua kapalnya dapat dihancurkan oleh pasukan
Demak. Hanya disisakan satu kapal yang ditumpangi seorang tokoh Portugis yang
bernama Mendez Pinto untuk dipulangkan ke Selat Malaka.
Kemudian
Peristiwa Paralaya II yang terjadi pada tahun 1564 M. Melalui informasi dan
kerja sama dengan orang dalam, Portugis berhasil
membantai Pangeran Cakra Buana bin Raden Trenggono atau yang dikenal dengan
Patih Wonosalam. Beliau menjadi Raja Demak tahun 1564-1601 M. Dalam pembantaian
itu, Portugis juga berhasil membantai seluruh keluarga Patih Wonosalam, kecuali
anak tertuanya yang bernama Raden Muhammad Arsyad Alawi yang berhasil
meloloskan diri dan ditolong oleh Ki
Demang Alap-alap (Kepala prajurit telik sandi) dengan menunggang kuda yang
bernama Gagakrimang. Akhirnya Raden Muhammad
Arsyad Alawi dititipkan ke Syekh Saridin (Syarifudin Said bin Raden Said bin
Sunan Kalijaga) dan tinggal bersama di Pati hingga wafat.
Dalam
peristiwa Pralaya ini tentu yang sangat disesalkan adalah terjadinya pengkhianatan
dari dalam. Ternyata Portugis berhasil menyuap dan bekerjasama dengan dua tokoh
penting orang dalam kerajaan dari keluarga Raden Fatah sendiri. Tidak
tanggung-tanggung pengkhianatan itu dilakukan oleh dua orang tokoh penting,
seorang pasangan suami istri dalam sejarah Kerajaan Demak Bintoro yang bernama
MK dan RKN. Hingga kini belum semua sejarah Demak terungkap. Masih banyak
informasi sejarah yang dihapus dan diputarbalikkan. Kita sebagai generasi
penerus Demak punya kewajiban untuk meluruskan sejarah Demak yang sesuai dengan
peristiwanya yang obyektif. Kalau bukan sekarang, mau kapan lagi. Kalau bukan
kita mau siapa lagi.
Penulis:
Akhmad Nur Qosim, Ketua Masyarakat Pemerhati Sejarah Demak (MPSD) Periode
2026-2031.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar