Oleh:
Ahmad Ulil Abshor
NU
Online Demak, - Di tengah riuh rendahnya dinamika kebangsaan,
Nahdlatul Ulama (NU) sebagai jam’iyah terbesar di Indonesia kembali diuji. Bukan
karena NU lemah, tetapi justru karena NU terlalu besar untuk tidak dituntut
memberi jawaban atas setiap persoalan zaman. Sebagai guru di SMP Assujuudiyyah,
sebuah lembaga pendidikan di bawah naungan nilai-nilai NU, saya merasakan
langsung bagaimana tarikan zaman ini sampai ke ruang kelas, ke majelis taklim,
sampai ke warung kopi para santri.
Tulisan
ini bukan untuk memvonis, apalagi mengajari para kiai dan pengurus. Ini adalah
kegelisahan seorang pengajar yang setiap hari bertemu anak-anak, orang tua, dan
masyarakat yang bertanya: “NU mau dibawa kemana?”
Potret Jam’iyah NU Hari
Ini: Kekuatan yang Sekaligus Menjadi Beban
Jika
kita jujur, NU hari ini berada pada posisi yang belum pernah dialami
sebelumnya.
Pertama, NU secara politik sangat
diperhitungkan. Kader-kader NU ada di eksekutif, legislatif, hingga lembaga Negara
yang lainya. Ini buah dari 100 tahun istiqomah berkhidmah untuk bangsa.
Kedua, NU secara sosial sangat
mengakar. Dari Masjid Agung Demak sampai mushola di pelosok, dari pesantren
salaf sampai sekolah modern seperti SMP Assujuudiyyah, ruh NU hidup. Tradisi
tahlilan, yasinan, ziarah, dan rutinan Aswaja masih menjadi napas warga.
Ketiga, NU secara ekonomi mulai
bergerak. LP NU, BUMNU, koperasi, dan pesantren-pesantren yang mulai mengelola
aset produktif adalah bukti NU tidak hanya bicara spiritual.
Namun
kekuatan ini juga melahirkan tantangan baru. Ketika NU sudah “di dalam” semua
lini, muncul 3 gejala yang saya lihat di lapangan:
a.
Kebingungan
Identitas
Sebagian
warga NU muda hari ini lebih kenal influencer dari pada kiai. Mereka bangga
jadi NU tapi tidak paham apa itu Aswaja An-Nahdliyah. Yang diingat hanya “NU
itu toleran”, tapi tidak paham kenapa harus toleran dan batasannya di mana.
b.
Oligarki
Simbolik
Nama
besar NU sering dipakai, tapi isinya belum tentu NU. Banyak kegiatan
mengatasnamakan NU tapi tidak lewat struktur jam’iyah. Akibatnya warga bingung
mana program resmi, mana program pribadi.
c. Jarak antara Pengurus dan Akar Rumput
Di
desa, pengurus ranting masih semangat yasinan. Di pusat, pengurus bicara geopolitik
dan ekonomi digital. Kesenjangan bahasa dan agenda ini membuat pesan NU tidak
sampai utuh.
Tantangan NU 5-10 Tahun
ke Depan
Saya
melihat ada 5 tantangan besar yang harus dijawab NU jika ingin tetap relevan.
Tantangan 1: Krisis Otoritas Keilmuan dan
Digitalisasi Dakwah
Dulu,
kalau warga punya masalah agama, larinya ke kiai kampung. Sekarang larinya ke
YouTube dan TikTok. Algoritma lebih cepat dari pengajian ahad pagi.
Tantangannya:
bagaimana NU bisa memproduksi konten yang nyantri tapi juga nyambung dengan
bahasa anak muda. Kita tidak boleh alergi teknologi. Pesantren harus punya
studio, guru-guru harus melek digital. Jika tidak, 10 tahun lagi yang mengisi
ruang digital adalah mereka yang tidak paham manhaj Aswaja.
Di
SMP Assujuudiyyah kami mulai, anak-anak diajari bikin konten 1 menit tentang
fikih sehari-hari. Hasilnya luar biasa. Mereka justru bangga jadi “santri
digital”.
Tantangan 2: Degradasi Kader Intelektual dan
Spiritual
NU
kuat karena punya 2 sayap: ulama dan umara. Hari ini sayap umaranya kuat. Tapi
sayap ulama yang mengkaji kitab kuning secara mendalam mulai menipis.
Banyak
anak muda NU pintar debat politik, tapi gagap ketika ditanya qawaidul fiqhiyah.
Banyak yang jago orasi, tapi tidak istikamah salat berjamaah.
NU
harus berani investasi jangka panjang: mengirim santri untuk mondok 10-15
tahun, bukan hanya pelatihan 3 hari. Kaderisasi harus mengembalikan tradisi
ngaji, ngabdi, dan nderes.
Tantangan 3: Ekonomi Warga NU
Kita
harus jujur: mayoritas warga NU masih di kelas menengah bawah. Petani, buruh,
UMKM. Ketika harga naik, yang pertama terdampak adalah jamaah kita.
NU
tidak bisa hanya jadi “penenang spiritual”. NU harus jadi “penggerak ekonomi”.
Tantangannya adalah membangun ekosistem ekonomi berbasis pesantren dan masjid.
Koperasi NU, BUMNU, dan pasar santri harus jadi prioritas. Jika tidak, orang
akan lari ke kelompok lain yang menawarkan bantuan sembako.
Tantangan 4: Polarisasi dan Ekstremisme Atas Nama
Agama
Ruang
publik kita makin keras. Ada yang mengatasnamakan Islam untuk memecah belah,
ada juga yang mengatasnamakan kebangsaan untuk menjauh dari agama. NU berada di
tengah.
Tantangannya:
bagaimana NU tetap tegas pada Aswaja tanpa dicap radikal, dan tetap toleran
tanpa dicap liberal. Ini butuh keberanian kiai untuk bersuara, dan butuh
kecerdasan kader untuk menjelaskan. Di sekolah, ini tugas kami: meluruskan
bahwa Islam NU itu Islam yang ramah, tapi punya prinsip.
Tantangan 5: Relevansi dengan Isu Global: Iklim,
AI, dan Kesehatan Mental
Anak-anak
sekarang bertanya: “Ustadz, NU punya pandangan apa tentang AI? Tentang
perubahan iklim? Tentang bullying dan kesehatan mental?”
Jika
NU hanya menjawab dengan kitab 200 tahun lalu tanpa ijtihad kontemporer, kita
akan ditinggal. NU harus punya lembaga riset yang menghubungkan turats dengan
isu kekinian. Ini bukan membuang tradisi, tapi justru menghidupkan semangat al-muhafadzatu ‘al qadimis shalih wal akhdzu
bil jadidil ashlah.
Arah NU ke Depan: 5
Kompas Jalan
Melihat
tantangan di atas, saya memberanikan diri menawarkan 5 arah kompas untuk NU ke
depan.
Kompas 1: Kembali ke Masjid dan Pesantren sebagai
Laboratorium
Semua
program besar NU harus diuji dulu di level paling bawah: ranting dan pesantren.
Jangan buat program megah di Jakarta tapi ranting tidak punya dana untuk beli
spidol.
Masjid
Agung Demak, SMP Assujuudiyyah, dan ponpes sekitar harus jadi pilot project.
Program Tahsinul Qur’an yang kita jalankan tiap Jum’at adalah contoh kecil:
legal, rutin, menyentuh pelajar, dan dibimbing langsung kiai. Perbanyak model
seperti ini.
Kompas 2: Revolusi Kaderisasi: Santri Digital
Berakhlak
NU
butuh 1 juta kader baru yang punya 3 hal: paham kitab, paham teknologi, dan
paham lapangan.
Kurikulum
kaderisasi harus dirombak. 40% ngaji kitab, 30% pelatihan digital dan
kewirausahaan, 30% pengabdian masyarakat. Jangan sampai ada kader NU yang
pinter pidato tapi tidak bisa memperbaiki genteng mushola.
Kompas 3: Ekonomi Berbasis Jamaah
NU
harus masuk ke dompet warga, bukan hanya ke hati warga. Caranya:
1. Wajibkan setiap MWC punya BUMNU.
2. Hubungkan produk pesantren ke pasar nasional lewat platform digital NU.
3. Gerakan “Belanja ke Saudara NU”.
Jika
ekonomi warga NU kuat, maka dakwah NU akan merdeka. Tidak tergantung donatur.
Kompas 4: Menjadi Juru Damai Peradaban
Dunia
sedang retak: perang, intoleransi, krisis iklim. Ini panggung NU. Dengan modal
Islam Nusantara yang rahmatan lil ‘alamin,
NU bisa menjadi model dunia.
Tapi
untuk itu NU harus kompak dulu di dalam. Stop tarik-menarik politik praktis
yang mengorbankan marwah jam’iyah. Kembalikan NU sebagai jam’iyah, bukan
kendaraan politik segelintir orang.
Kompas 5: Merawat Tradisi, Membuka Ijtihad
Ini
ruh NU. Kita tidak boleh alergi tradisi karena itu identitas. Tapi kita juga
tidak boleh takut ijtihad karena itu kebutuhan.
Contoh
kecil: yasinan tetap jalan, tapi diselipkan edukasi gizi. Tahlil tetap ada,
tapi sekalian arisan produktif. Ngaji kitab kuning tetap, tapi pakai proyektor
dan zoom agar santri di luar Jawa bisa ikut.
Penutup: NU Milik Kita
Semua
NU tidak akan runtuh karena serangan dari luar.
NU akan lemah jika kita sendiri yang lupa pada akarnya.
Tantangan
ke depan berat. Tapi NU sudah terbukti 100 tahun melewati penjajahan,
pemberontakan, dan krisis. Kuncinya hanya satu: kembali ke kiai, kembali ke
pesantren, kembali ke jamaah.
Sebagai
guru, tugas saya sederhana yaitu memastikan anak-anak yang lulus dari SMP
Assujuudiyyah ini kelak jadi kader NU yang salatnya benar, bacaan Qur’annya
tartil, akhlaknya baik, dan siap membangun Indonesia.
Jika
setiap guru, setiap kiai, setiap pengurus ranting melakukan hal yang sama di
tempatnya, maka arah NU ke depan sudah jelas yakni menjadi jamiyah yang rahmatan lil ‘alamin, kuat secara
spiritual, intelektual, dan ekonomi.
Wallahu a’lam bish shawab.
Penulis:
Ahmad Ulil Abshor, Guru SMP Assujuudiyyah Demak
Editor: Rohmad Sholeh
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar