Opini

Jam’iyah NU Hari Ini: Menimbang Tantangan dan Merumuskan Arah ke Depan

315 Dilihat 0 Komentar
Jam’iyah NU Hari Ini: Menimbang Tantangan dan Merumuskan Arah ke Depan

Oleh: Ahmad Ulil Abshor

NU Online Demak, - Di tengah riuh rendahnya dinamika kebangsaan, Nahdlatul Ulama (NU) sebagai jam’iyah terbesar di Indonesia kembali diuji. Bukan karena NU lemah, tetapi justru karena NU terlalu besar untuk tidak dituntut memberi jawaban atas setiap persoalan zaman. Sebagai guru di SMP Assujuudiyyah, sebuah lembaga pendidikan di bawah naungan nilai-nilai NU, saya merasakan langsung bagaimana tarikan zaman ini sampai ke ruang kelas, ke majelis taklim, sampai ke warung kopi para santri.

Tulisan ini bukan untuk memvonis, apalagi mengajari para kiai dan pengurus. Ini adalah kegelisahan seorang pengajar yang setiap hari bertemu anak-anak, orang tua, dan masyarakat yang bertanya: “NU mau dibawa kemana?”


Potret Jam’iyah NU Hari Ini: Kekuatan yang Sekaligus Menjadi Beban

Jika kita jujur, NU hari ini berada pada posisi yang belum pernah dialami sebelumnya.

Pertama, NU secara politik sangat diperhitungkan. Kader-kader NU ada di eksekutif, legislatif, hingga lembaga Negara yang lainya. Ini buah dari 100 tahun istiqomah berkhidmah untuk bangsa.

Kedua, NU secara sosial sangat mengakar. Dari Masjid Agung Demak sampai mushola di pelosok, dari pesantren salaf sampai sekolah modern seperti SMP Assujuudiyyah, ruh NU hidup. Tradisi tahlilan, yasinan, ziarah, dan rutinan Aswaja masih menjadi napas warga.

Ketiga, NU secara ekonomi mulai bergerak. LP NU, BUMNU, koperasi, dan pesantren-pesantren yang mulai mengelola aset produktif adalah bukti NU tidak hanya bicara spiritual.

Namun kekuatan ini juga melahirkan tantangan baru. Ketika NU sudah “di dalam” semua lini, muncul 3 gejala yang saya lihat di lapangan:

a.     Kebingungan Identitas

Sebagian warga NU muda hari ini lebih kenal influencer dari pada kiai. Mereka bangga jadi NU tapi tidak paham apa itu Aswaja An-Nahdliyah. Yang diingat hanya “NU itu toleran”, tapi tidak paham kenapa harus toleran dan batasannya di mana.

b.     Oligarki Simbolik

Nama besar NU sering dipakai, tapi isinya belum tentu NU. Banyak kegiatan mengatasnamakan NU tapi tidak lewat struktur jam’iyah. Akibatnya warga bingung mana program resmi, mana program pribadi.

c.      Jarak antara Pengurus dan Akar Rumput

Di desa, pengurus ranting masih semangat yasinan. Di pusat, pengurus bicara geopolitik dan ekonomi digital. Kesenjangan bahasa dan agenda ini membuat pesan NU tidak sampai utuh.

 

Tantangan NU 5-10 Tahun ke Depan

Saya melihat ada 5 tantangan besar yang harus dijawab NU jika ingin tetap relevan.

Tantangan 1: Krisis Otoritas Keilmuan dan Digitalisasi Dakwah

Dulu, kalau warga punya masalah agama, larinya ke kiai kampung. Sekarang larinya ke YouTube dan TikTok. Algoritma lebih cepat dari pengajian ahad pagi.

Tantangannya: bagaimana NU bisa memproduksi konten yang nyantri tapi juga nyambung dengan bahasa anak muda. Kita tidak boleh alergi teknologi. Pesantren harus punya studio, guru-guru harus melek digital. Jika tidak, 10 tahun lagi yang mengisi ruang digital adalah mereka yang tidak paham manhaj Aswaja.

Di SMP Assujuudiyyah kami mulai, anak-anak diajari bikin konten 1 menit tentang fikih sehari-hari. Hasilnya luar biasa. Mereka justru bangga jadi “santri digital”.

Tantangan 2: Degradasi Kader Intelektual dan Spiritual

NU kuat karena punya 2 sayap: ulama dan umara. Hari ini sayap umaranya kuat. Tapi sayap ulama yang mengkaji kitab kuning secara mendalam mulai menipis.

Banyak anak muda NU pintar debat politik, tapi gagap ketika ditanya qawaidul fiqhiyah. Banyak yang jago orasi, tapi tidak istikamah salat berjamaah.

NU harus berani investasi jangka panjang: mengirim santri untuk mondok 10-15 tahun, bukan hanya pelatihan 3 hari. Kaderisasi harus mengembalikan tradisi ngaji, ngabdi, dan nderes.

Tantangan 3: Ekonomi Warga NU

Kita harus jujur: mayoritas warga NU masih di kelas menengah bawah. Petani, buruh, UMKM. Ketika harga naik, yang pertama terdampak adalah jamaah kita.

NU tidak bisa hanya jadi “penenang spiritual”. NU harus jadi “penggerak ekonomi”. Tantangannya adalah membangun ekosistem ekonomi berbasis pesantren dan masjid. Koperasi NU, BUMNU, dan pasar santri harus jadi prioritas. Jika tidak, orang akan lari ke kelompok lain yang menawarkan bantuan sembako.

Tantangan 4: Polarisasi dan Ekstremisme Atas Nama Agama

Ruang publik kita makin keras. Ada yang mengatasnamakan Islam untuk memecah belah, ada juga yang mengatasnamakan kebangsaan untuk menjauh dari agama. NU berada di tengah.

Tantangannya: bagaimana NU tetap tegas pada Aswaja tanpa dicap radikal, dan tetap toleran tanpa dicap liberal. Ini butuh keberanian kiai untuk bersuara, dan butuh kecerdasan kader untuk menjelaskan. Di sekolah, ini tugas kami: meluruskan bahwa Islam NU itu Islam yang ramah, tapi punya prinsip.

Tantangan 5: Relevansi dengan Isu Global: Iklim, AI, dan Kesehatan Mental

Anak-anak sekarang bertanya: “Ustadz, NU punya pandangan apa tentang AI? Tentang perubahan iklim? Tentang bullying dan kesehatan mental?”

Jika NU hanya menjawab dengan kitab 200 tahun lalu tanpa ijtihad kontemporer, kita akan ditinggal. NU harus punya lembaga riset yang menghubungkan turats dengan isu kekinian. Ini bukan membuang tradisi, tapi justru menghidupkan semangat al-muhafadzatu ‘al qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah.


Arah NU ke Depan: 5 Kompas Jalan

Melihat tantangan di atas, saya memberanikan diri menawarkan 5 arah kompas untuk NU ke depan.

Kompas 1: Kembali ke Masjid dan Pesantren sebagai Laboratorium

Semua program besar NU harus diuji dulu di level paling bawah: ranting dan pesantren. Jangan buat program megah di Jakarta tapi ranting tidak punya dana untuk beli spidol.

Masjid Agung Demak, SMP Assujuudiyyah, dan ponpes sekitar harus jadi pilot project. Program Tahsinul Qur’an yang kita jalankan tiap Jum’at adalah contoh kecil: legal, rutin, menyentuh pelajar, dan dibimbing langsung kiai. Perbanyak model seperti ini.

Kompas 2: Revolusi Kaderisasi: Santri Digital Berakhlak

NU butuh 1 juta kader baru yang punya 3 hal: paham kitab, paham teknologi, dan paham lapangan.

Kurikulum kaderisasi harus dirombak. 40% ngaji kitab, 30% pelatihan digital dan kewirausahaan, 30% pengabdian masyarakat. Jangan sampai ada kader NU yang pinter pidato tapi tidak bisa memperbaiki genteng mushola.

Kompas 3: Ekonomi Berbasis Jamaah

NU harus masuk ke dompet warga, bukan hanya ke hati warga. Caranya:
1. Wajibkan setiap MWC punya BUMNU.
2. Hubungkan produk pesantren ke pasar nasional lewat platform digital NU.
3. Gerakan “Belanja ke Saudara NU”.

Jika ekonomi warga NU kuat, maka dakwah NU akan merdeka. Tidak tergantung donatur.

Kompas 4: Menjadi Juru Damai Peradaban

Dunia sedang retak: perang, intoleransi, krisis iklim. Ini panggung NU. Dengan modal Islam Nusantara yang rahmatan lil ‘alamin, NU bisa menjadi model dunia.

Tapi untuk itu NU harus kompak dulu di dalam. Stop tarik-menarik politik praktis yang mengorbankan marwah jam’iyah. Kembalikan NU sebagai jam’iyah, bukan kendaraan politik segelintir orang.

Kompas 5: Merawat Tradisi, Membuka Ijtihad

Ini ruh NU. Kita tidak boleh alergi tradisi karena itu identitas. Tapi kita juga tidak boleh takut ijtihad karena itu kebutuhan.

Contoh kecil: yasinan tetap jalan, tapi diselipkan edukasi gizi. Tahlil tetap ada, tapi sekalian arisan produktif. Ngaji kitab kuning tetap, tapi pakai proyektor dan zoom agar santri di luar Jawa bisa ikut.


Penutup: NU Milik Kita Semua

NU tidak akan runtuh karena serangan dari luar. NU akan lemah jika kita sendiri yang lupa pada akarnya.

Tantangan ke depan berat. Tapi NU sudah terbukti 100 tahun melewati penjajahan, pemberontakan, dan krisis. Kuncinya hanya satu: kembali ke kiai, kembali ke pesantren, kembali ke jamaah.

Sebagai guru, tugas saya sederhana yaitu memastikan anak-anak yang lulus dari SMP Assujuudiyyah ini kelak jadi kader NU yang salatnya benar, bacaan Qur’annya tartil, akhlaknya baik, dan siap membangun Indonesia.

Jika setiap guru, setiap kiai, setiap pengurus ranting melakukan hal yang sama di tempatnya, maka arah NU ke depan sudah jelas yakni menjadi jamiyah yang rahmatan lil ‘alamin, kuat secara spiritual, intelektual, dan ekonomi.

Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis: Ahmad Ulil Abshor, Guru SMP Assujuudiyyah Demak

Editor: Rohmad Sholeh

Bagikan:
Ahmad Ulil Abshor
Ahmad Ulil Abshor

Penulis lepas di NU Demak

Lihat Semua Tulisan

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar
Membalas komentar dari