Oleh: Akhmad Nur Qosim
NU Online Demak, - Membahas migrasi bangsa Maghribi Spanyol ke wilayah Demak pada pertengahan abad ke-13, seharusnya tidak lepas dari teori-teori masuknya Islam di Indonesia. Sebab kedatangan mereka juga membawa pengaruh Islamisasi yang bukan hanya terjadi di wilayah Demak, namun juga pulau Jawa, bahkan seluruh wilayah nusantara. Kahadiran bangsa Maghribi Spanyol di nusantara juga berpengaruh terhadap berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di nusantara, termasuk kerajaan Demak tahun 1475 M. Namun sayangnya kehadiran mereka ke nusantara belum diakui dalam narasi sejarah masuknya Islam di Indonesia. Selama ini buku-buku sejarah tentang masuknya Islam yang di pelajari di sekolah-sekolah hanya mengakui teori Gujarat, Arab/Mesir, Persia, dan China.
Teori Gujarat yang dikemukakan oleh Snouck Hurgronje, W.F. Stutterheim, dan B.H.M. Vlekke mendasarkan pada persamaan corak nisan makam Sultan Malik Al-Saleh (Raja pertama Samudera Pasai) yang berasal dari Gujarat. Teori Arab/Mesir yang dikemukakan Buya Hamka mendasarkan pada persamaan madzab Syafi’i dianut oleh umat Islam di Indonesia dengan Arab atau Mesir. Teori Persia yang didukung oleh Hoesein Djajadiningrat dan Amir Husein berpedoman pada keberadaan sufisme, perayaan 10 Muharram mengenang wafatnya Husein bin Ali, dan persamaan pengejaan huruf Arab dengan tradisi di Persia.
Adapun teori China yang didukung oleh Slamet Mulyana dan Sumanto Al-Qurtubi didasarkan pada migrasi Muslim China dari Kanton dan pesisir China selatan ke Sumatra dan Jawa. Hal ini juga disaksikan oleh Ma Huan yang kemudian ditulis dalam bukunya “Yingyai Shenglan”. Dia menceritakan, bahwa pada abad 15 sudah banyak penduduk China Muslim yang mendiami pesisir utara Jawa.
Bagaimana dengan keberadaan ratusan makam tokoh Maghribi yang tersebar di sepanjang pulau Jawa, misalnya makam Syekh Maulana Maghribi Demak (Syekh Maulana Mudhofar Malik Hasan Al-Maghribi) yang terdapat di belakang Masjid Agung Demak, Syekh Maulana Maghribi Wonobodro Batang, Syekh Maulana Maghribi Parangtritis Bantul, dan sebagainya. Belum lagi makam para waliyullah di Demak yang tidak dikenal sebagai Maghribi oleh masyarakat, misalnya makam Mbah Bakem yang sesungguhnya bernama Syekh Abdullah Hasan Bakem Al-Maghribi (Sunan Bonang ke-1) yang makamnya di Desa Tridonorejo, Bonang, Demak.
Kemudian makam Mbah Boyolangu yang memiliki nama Ali Abdullah bin Muhammad Hasan Ibnul Ash Al-Maghribi, Syekh Siti Jenar Demak (Hasan Ali Asror Al-Maghribi), serta masih puluhan bahkan ratusan nama-nama tokoh Demak yang tidak menampilkan marganya, namun sesungguhnya dari Maghribi Spanyol. Banyaknya tokoh-tokoh bermarga Al-Maghribi di Demak menunjukkan adanya pengaruh kuat terhadap proses Islamisasi dan berdirinya kerajaan-kerajaaan Islam. Sehingga tidak salah kiranya bila dimunculkan teori baru, yakni Teori Maghribi Spanyol.
Sejarawan Kerajaan Demak Bintoro dan Walisongo, A.K.A. Hasan, mencatat ada dua rombongan awal yang masing-masing terdiri dari enam kapal imigran Maghribi Spanyol yang hijrah ke Demak tahun 1351 M. Rombongan itu dipimpin Syekh Boyolangu (Ali Abdullah bin Muhammad Hasan Ibnul Ash Al-Maghribi) yang mendarat di Boyolangu, Bonang, Demak bersama Mbah Surodipo (Syekh Abdullah Bukhori bin Akhmad Bukhori Al-Maghribi) yang mendarat di Banjarsari, Sayung, Demak. Tujuan kedatangan mereka bukan untuk berdagang seperti yang diceritakan dalam buku-buku sejarah, namun mencari suaka politik akibat terjadinya konflik yang terjadi di Granada Spanyol.
Kedatangan Syekh Boyolangu ke Demak diterima secara baik oleh Patih Gajah Mada yang kebetulan pada saat itu sedang melakukan peninjauan akibat banjir besar tahun 1349-1350 M. Oleh Gajah Mada rombongan itu diberikan suaka politik dan diberikan hak untuk mengajarkan Islam dengan mendirikan pesantren (daerah kewalian). Kepercayaan itu muncul karena menganggap Islam memiliki persamaan monoteisme dengan agama Kapitayan yang telah ada di Jawa. Pada saat rombongan Maghribi tiba, kondisi Demak pasca banjir telah kosong karena ditinggalkan oleh para penduduk penganut Hindu. Mereka telah pindah ke Rahtawu Gunung Muria untuk berkumpul dengan komunitasnya.
Meski tidak tercatat dalam narasi sejarah nasional, kedatangan bangsa Maghribi Spanyol ternyata diakui oleh Tome Pires dalam bukunya Summa Oriental. Dia menyaksikan keberadaan bangsa Moor (sebutan untuk pendatang Maghribi) membangun koloni-koloni. Kebanyakan mereka memiliki tinggi badan setara dengan bangsa Portugis. Namun sayangnya dalam sebuah narasi channelnya, Asisi Suharyanto menuduh bahwa sejak terbentuknya koloni-koloni, bangsa Moor menghapus budaya-budaya lokal. Tuduhan itu adalah kesalahpahaman. Sebab bangsa Maghribi Spanyol dalam menyebarkan Islam di nusantara menggunakan pendekatan yang sangat bijak, yakni melalui proses asimilasi dan akulturasi yang dibangun di institusi yang disebut pondok pesantren dalam sebuah daerah kewalian. Maka sejak mendapatkan kepercayaan itu, Syekh Boyolangu mendirikan pesantren tertua yang bertempat di Desa Boyolangu, Bonang, Demak dan Mbah Surodipo mendirikan pesantren di Banjarsari, Sayung, Demak.
Masyarakat Demak dan sekitarnya adalah pewaris peradaban para imigran Maghribi Spanyol tahun 1351 M. Setelah munculnya Dewan Walisongo dan berdirinya Kerajaan Demak Bintoro, maka Demak menjadi sentral dari peradaban Islam di nusantara. Perkembangan Islam di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara tidak lepas dari peran ulama-ulama dari Demak. Selain itu para ulama dari Demak juga menciptakan kebudayaan Islam Jawa yang menjadi wujud dari metode asimilasi dan akulturasi yang kelak menjadi dasar bagi perkembangan kebudayaan Jawa berikutnya.
Namun sayangnya sejarah tidak berhenti hanya sampai di situ, masih ada beberapa periodisasi lagi yang mengubah peradaban, yakni masuknya pengaruh Eropa. Bangsa Eropa secara silih berganti menggempur kemajuan peradaban Islam yang berpusat di Demak, mulai dari Portugis, Inggris, dan Belanda melalui berbagai cara, misalnya penyerangan secara militer, merusak situs-situs, perampasan beberapa naskah kuno, memasukkan faham-faham baru yang bertentangan dengan ajaran Walisongo, hingga mendatangkan para imigran lain.
Selama proses perjalanan sejarah hingga sekarang ini masih banyak peristiwa-peristiwa migrasi penduduk yang berasal dari berbagai etnis. Pada masa VOC Demak juga kedatangan suku-suku Kalang. Menurut P.J. Veth tahun 1743 M, jumlah orang kalang di wilayah VOC mencapai 2.780 keluarga. Mereka tersebar di beberapa daerah, diantaranya Surabaya 250 keluarga, Pasuruan 50, Pati 250, Demak 1000, Pekalongan 800, Tegal 180, dan Kendal 250.
Demak menempati jumlah paling banyak kedatangan keluarga suku Kalang. Pada tahun 1808-1811 M Belanda mengerjakan proyek jalan raya Pos (jalan Deandels). Tahun 1875 M Belanda mengerjakan Sungai Tuntang, kali Jajar, sungai Lusi dan sebagainya. Semua dikerjakan dengan mendatangkan para kuli yang sebagian berasal dari suku-suku Kalang. Sehingga pada fase-fase itulah telah terjadi perkawinan campur dari berbagai macam kalangan.
Salah satu fungsi sejarah adalah sebagai pendidikan. Masyarakat Demak sebagai pewaris utama peradaban Islam tertua di pulau Jawa seharusnya dapat memetik pelajaran dari perjalanan sejarah panjang. Keagungan prestasi para wali bukan hanya untuk kebanggaan namun untuk diteladani. Kesalahan dan peristiwa-peristiwa tragis bukan sekedar untuk ditangisi, melainkan untuk menjadi pelajaran guna menapaki hidup pada masa kini dan masa yang akan datang.
Penulis: Akhmad Nur
Qosim, Ketua Masyarakat Pemerhati Sejarah Demak (MPSD) Periode 2026-2031.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar