Opini

Sungai Tuntang Sebagai Pusat Peradaban Awal Kerajaan Demak Bintoro

15 Dilihat 0 Komentar
Sungai Tuntang Sebagai Pusat Peradaban Awal Kerajaan Demak Bintoro

Oleh: Akhmad Nur Qosim

NU Online Demak,Sungai sudah digunakan sebagai aktivitas kehidupan umat manusia sejak dahulu kala. Demikian dikatakan oleh Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dalam sebuah sambutan di seminar “Perubahan DAS Brantas dalam Perspektif Sejarah Tahun 2008”. Hal ini dipertegas oleh fakta sejarah, bahwa dari tujuh pusat peradaban kuno dunia, empat diantaranya adalah lembah sungai. Pusat-pusat peradaban tersebut adalah lembah Sungai Eufrat dan Tigris (Mesopotamia), lembah sungai Huang Ho dan Yang Tse Kiang (China), lembah Sungai Nil (Mesir Kuno), dan lembah Sungai Indus dan Gangga (India). Fakta ini menunjukkan bahwa pusat-pusat peradaban kuno dunia sebagian besar muncul dari lembah sungai. Dari pusat-pusat itulah kemudian berkembang peradaban manusia yang maju hingga sekarang ini.


Namun masyarakat sudah terlanjur beranggapan bahwa pusat kebudayaan adalah daratan. Pandangan ini tidak salah, mengingat peninggalan-peninggalan sejarah berupa artefak mayoritas ditemukan di daratan. Berkenaan dengan hal itu, maka akan terasa aneh juga bila dikatakan bahwa Sungai Tuntang merupakan tempat lahirnya peradaban masyarakat Demak. Salah satu penyebabnya di antaranya adalah dimatikannya Sungai Tuntang Lama oleh Pemerintah Kolonial Belanda yang menyebabkan hilangnya budaya sungai pada masyarakat Demak


Terjadinya disorientasi ini terjadi sejak runtuhnya kerajaan Demak Bintoro tahun 1564 M, yang kemudian kekuasaan bergeser ke Pajang dan Mataram. Perpindahan itu tentu bukan sekedar bermakna sebagai pergeseran pusat politik saja, akan tetapi lebih pada kemunduran cara berpikir para bangsawan Jawa waktu itu, yang menganggap daratan lebih penting dari pada perairan. Pada masa kekuasaan Sultan Agung, Mataram lebih berkeinginan untuk penyatuan tanah Jawa, memajukan pertanian dan kebudayaan Jawa.


Pandangan tersebut sangat berbeda dengan Belanda. Baginya penguasaan jalur perairan dan wilayah pesisir merupakan strategi penting untuk hegemoni politik, ekonomi, dan pertahanan. Untuk itulah Belanda selalu berusaha menghancurkan kerajaan-kerajaan maritim Indonesia melalui berbagai cara. Kesempatan emas Belanda muncul saat Mataram di bawah Amangkurat II dan Pakubuwono I. Pada tahun 1682 M Semarang sebagai pelabuhan maritim diserahkan ke Belanda sebagai pembayaran utang  Sunan Amangkurat II pada tahun 1678 M. Selanjutnya tahun 1705 M Semarang resmi menjadi kota dagang, akibatnya Mataram menjadi terkurung di pedalaman, sebaliknya Semarang menjadi pusat perdagangan Belanda yang sangat maju.


Tuntang adalah sebuah sungai yang memiliki panjang sekitar 139 KM dengan luas daerah aliran sungai (DAS) seluas 830,82 KM2. Apabila dilihat berdasarkan sejumlah anak sungainya, Sungai Tuntang melawati beberapa Kabupaten/Kota di Jawa Tengah, yakni Salatiga, Kabupaten Semarang, Grobogan, dan Demak. Hulu Sungai Tuntang berasal dari lereng Gunung Merbabu (3.124 mdpl), menuju bagian selatan Gunung Ungaran (2.050 mdpl), dan diapit pada bagian utara dan timur dari Gunung Telomoyo (1.994 mdpl), kemudian tertampung di Rawa Pening. Dari Rawa Pening kemudian mengalir ke Sungai Tuntang dan bermuara di Desa Morodemak. Luas Daerah Aliran Sungai (DAS) Tuntang mencapai 830,82 KM2. Lebar sungai ketika sungai itu masih berfungsi sebagai jalur transportasi diperkirakan mencapai 100 Meter lebih. Hal ini dibuktikan dengan lebar bantaran Sungai Tuntang yang ada di Desa Jogoloyo dan Wonosalam yang kini sudah menjadi pemukiman warga juga mencapai 100 Meter lebih.


Perjalanan sejarah Kerajaan Demak Bintoro tidak bisa lepas dari peranan Sungai Tuntang sebagai jalur utama transportasi yang menghubungkan antara pesisir dengan pedalaman Jawa Tengah. Ini berarti Sungai Tuntang memiliki peran yang sangat besar bagi masyarakat Demak. Melalui Sungai Tuntang itulah lahir budaya masyarakat Demak. Peran sungai Tuntang sebagai sarana transportasi dapat dikutip dari sebuah tembang berjudul Megatruh. Syair tembang tersebut lengkapnya adalah “Sigra milir sang gethek sinangga bajul. Kawan dasa kang njageni. Ing ngarsa miwah ing pungkur. Tanampi ing kanan kering Sang gethek lampahnya alon. Menurut Babad Demak tembang tersebut mengisahkan perjalanan Mas Karebet dari Desa Tingkir ke Kotaraja Demak dengan menaiki rakit melewati Sungai Tuntang. Terlepas dari kontroversi ini, tembang tersebut telah membantu ingatan masyarakat tentang peran Sungai Tuntang sebagai jalur transportasi yang menghubungkan Demak ke pedalaman Jawa Tengah.


Keberadaan Kampung Tembiring sebagai pelabuhan kuno berfungsi sebagai penghubung antara Kotaraja Demak dengan pedalaman Jawa. Sungai Tuntang merupakan jalur transportasi utama dalam pengangkutan hasil bumi dari daerah pegunungan ke daerah muara (pesisir) atau sebaliknya dari pesisir diangkut barang-barang import ke wilayah pedalaman. Tentu hal ini telah melahirkan  ketrampilan  masyarakat  dalam penciptaan teknologi sampan, rakit, perahu/jukung, sampai dengan kapal kayu berukuran besar sebagaimana kapal laut (jung).


Kota Demak pada masa kerajaan mendapatkan julukan sebagai bandar dagang jalur sutera. Ini berarti aktivitas ekonomi Kota Demak ditandai dengan banyaknya kegiatan perdagangan ekspor dan impor, khususnya kain sutera dari negeri Tiongkok. Menurut catatan Pigeaud dan Sedyawati bahwa nama Demak pernah tertulis dalam sebuah prasasti Majapahit, dimana merupakan salah satu pelabuhan penting pada masa itu.  Peran Demak sebagai  Bandar  pelabuhan  menjadi  sangat   penting setelah Juwana yang merupakan pelabuhan utama Kadipaten Pati dihancurkan oleh Majapahit pada tahun 1513 M. Dengan runtuhnya pelabuhan Juwana, maka berarti Demak telah menggantikan posisinya sebagai pusat perdagangan terbesar di wilayah pantura. Komoditas utama perdagangan dari Demak adalah padi, buah-buahan, dan ikan laut yang terutama ditujukan kepada pusat-pusat perdagangan di Malaka.  Impor Demak  pada  umumnya berupa barang-barang  hasil industri, misalnya sutera dan piring keramik dari Tiongkok, kain katun dari Srilangka, kapur barus dari Kerajaan Barus, minyak wangi dari arab dan sebagainya. Hal lain yang perlu dicatat adalah, bahwa Demak juga memiliki peran sebagai pelabuhan transit, yang menjadi perantara kegiatan perdagangan rempah-rempah dari wilayah Indonesia Timur dengan para pedagang asing dari Barat. Dengan demikian dapat digambarkan betapa ramainya aktivitas bandar pelabuhan di Demak.


Aktivitas perdagangan seperti ini jelas sangat berpengaruh terhadap jalur transportasi Sungai Tuntang dari hilir ke hulu atau sebaliknya. Sebagai pengekspor beras dan buah-buahan, tentu Demak melibatkan para pengepul hasil bumi yang bermukim di wilayah pedalaman Jawa Tengah. Selain itu, tidak kalah penting adalah wilayah pedalaman juga menyediakan ribuan balok kayu jati yang siap dikirim ke Demak  melalui  Sungai  Tuntang  sebagai  bahan baku bangunan rumah atau pembuatan kapal. Sebaliknya barang-barang yang dikirim dari Demak ke wilayah pedalaman misalnya selain barang-barang impor dari luar negeri, adalah berbagai jenis ikan segar dan olahan yakni ikan kering/gereh, ikan panggang, ikan pindang dan trasi, dan sebagainya. Pada saat pengiriman barang dari hilir ke hulu atau sebaliknya itulah Sungai Tuntang bersama memegang peranan penting dalam transportasi perdagangan.


Fakta lainnya yang membuktikan bahwa Sungai Tuntang sebagai pusat peradaban awal masyarakat Demak adalah keberadaan kampung-kampung tua di kota Demak yang semuanya berada pada bantaran sungai Tuntang. Kampung-kampung tersebut misalnya Tembiring, Pandean, Beguron, Yudamenggalan, Tirtayudan, Kembangan, Penjalan, Tukangan, Gendingan, Petengan, Merbotan, Kauman dan sebagainya. Keunikan kampung-kampung tersebut adalah membentuk pola melingkar yang mengelilingi kampung Setinggil sebagai tempat tinggal raja. Karena itulah berdasarkan teori tata kota dari Koentjaraningrat maka hal itu didasarkan pada konsep kosmologi. Raja berada di tengah dan dikelilingi oleh para pembantunya. Selain itu kampung-kampung tersebut merupakan tempat tinggal yang terikat oleh profesi tertentu. Misalnya Pandean yang merupakan kampung dari pande besi, Tukangan yang merupakan kampung para tukang, Tirtayudan yang kemungkinan merupakan asrama angkatan laut Kerajaan Demak Bintoro.


Selain itu sebagai sarana ekonomi dan transportasi melalui jalur sungai juga agama Islam disebarluaskan ke wilayah pedalaman Jawa Tengah. Sebagaimana kita ketahui bahwa wilayah pedalaman sangat syarat dengan pengaruh Hindu/Budah. Sedangkan pesisir merupakan pusat dari tradisi Islam. Sehingga dapat dipastikan, bahwa desa-desa yang dilewati sungai Tuntang maka memiliki tradisi keislaman yang sangat kuat. Hal ini ditandai dengan banyaknya tempat-tempat ibadah berupa masjid atau langgar, dan yang lebih penting lagi adalah keberadaan pondok-pondok pesantren dan sekolah-sekolah madrasah.


Bagi masyarakat awal Demak, sungai juga menyediakan sumber makanan mulai dari protein dan nabati. Berbagai jenis protein nabati berupa ikan sangat akrab di telinga masyarakat Demak, yakni mulai ikan gabus, lele, belut, sili, jepet, wader, betik, sepat dan sebagainya. Kemudian Sungai juga menyediakan berbagai jenis sayuran mulai dari kangkung, genjer, semanggi, daun keladi dan sebagainya.


Sampai dengan abad ke-18, sebelum Sungai Tuntang Baru dibangun sungai-sungai ini masih dapat dilayari oleh kapal-kapal yang berukuran agak kecil. Namun sejak abad ke-19 sungai Tuntang sudah tidak bisa dilewati kapal. Faktor utamanya adalah terjadinya sedimentasi atau pendangkalan dan peyempitan ruas sungai. Setelah pembangunan Sungai Tuntang Baru (Kali Kontrak) pada tahun 1870 M, eksistensi Sungai Tuntang Lama yang membelah Kota Demak menjadi terabaikan oleh masyarakat, karena wujudnya lebih menyerupai selokan tempat pembuangan limbah rumah tangga. Bahkan pada beberapa ruas sungai di Desa Kendaldoyong, Jogoloyo, dan Wonosalam telah diurug untuk dijadikan pemukiman warga. Sungguh sebuah fakta yang sangat memperihatinkan.


Namun, sejak awal tahun 2012 M telah ada upaya peningkatan  kepedulian pemerintah dan masyarakat, yakni dengan  dibangunnya  Taman  Kali  Tuntang  dan tahun 2018 M dibentuknya beberapa relawan di antaranya Komunitas Peduli Sungai (KPS) yang bekerjasama dengan LP3 Global Green Indonesia dan dinas lain yang terkait. Kini Kejayaan Sungai Tuntang telah berakhir. Sungai Tuntang Baru hanya berfungsi sebagai pengendali banjir dan irigasi untuk kegiatan pertanian. Semoga tulisan ini bisa membantu mengembalikan memori masyarakat yang telah hilang dan mengembalikan jati diri warga yang sesungguhnya Demak terbentuk dari peradaban maritim yang maju. Sejarah bukan hanya berfungsi untuk dikenang, namun yang lebih penting menjadi sebuah pelajaran yang berharga. Barang siapa yang tidak memahami peristiwa masa lampau, maka sesungguhnya tidak memehami apa yang terjadi sekarang ini.


Penulis: Akhmad Nur Qosim, Ketua Masyarakat Pemerhati Sejarah Demak (MPSD) Periode 2026-2031.

Editor: Rohmad Sholeh
Bagikan:
 Akhmad Nur Qosim
Akhmad Nur Qosim

Penulis lepas di NU Demak

Lihat Semua Tulisan

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar
Membalas komentar dari