Oleh: Ahmad Ulil Abshor
NU Online Demak, - Beberapa minggu terakhir, nama pesantren kembali rame di media. Judulnya besar-besar, komentarnya pedas-pedas. Ada yang bilang pesantren kolot, gelap, perbudakan, bahkan dikaitkan dengan hal-hal yang menakutkan. Fitnah datang silih berganti seperti ombak.
Tapi anehnya, tiap kali saya pulang ngaji subuh dan lihat Kiai saya masih duduk di serambi dengan sarung dan kopi pahit, menunggu santri setoran, saya jadi yakin satu hal yakni “Pesantren tetap pendidikan utama bangsa ini”.
Fitnah Bisa Viral, Tapi Akhlak Tidak Bisa Di-Edit
Media bisa memotong 10 detik video lalu menjadikannya vonis. Media bisa mengambil 1 kasus lalu digeneralisir ke 28 ribu pesantren se-Indonesia. Tapi media tidak bisa meliput jam 2 malam ketika santri bangun untuk mujahadah dan muthola’ah dan Kiai menungggui di depan pintu. Media tidak bisa menyiarkan ketika santri miskin dikasih beras, dikasih buku, dikasih ijazah tanpa bayar. Media tidak bisa menghitung berapa ribu anak jalanan yang jadi hafidz dan alim kutub karena diasuh pesantren gratis.
Di Assujuudiyyah tempat saya mondok, kami diajarkan "Al-adabu fauqal ‘ilmi". Akhlak di atas ilmu. Kami diajarkan ngalap berkah dengan cium tangan, bukan karena menyembah Kiai. Tapi karena belajar adab kepada orang yang ilmunya lebih tua.
Fitnah boleh merajalela. Tapi santri tetap disuruh nyapu, tetap disuruh hormat ke orang tua, tetap disuruh jujur meski tidak ada CCTV. Itu pendidikan yang tidak bisa dibeli di bimbel manapun.
Pesantren Bukan Pabrik Nilai, Tapi Pabrik Manusia
Sekolah umum mengejar ranking, kampus mengejar IPK. Pesantren mengejar 2 hal yaitu iman dan adab.
Kami tidak hanya belajar nahwu shorof, kami belajar bangun tidur sendiri tanpa dibangunkan alarm, belajar makan bergiliran, belajar menahan marah ketika dijahili teman sekamar, belajar tanggung jawab atas hafalan.
Mungkin lulusan pesantren tidak langsung fasih bahasa Inggris, tapi insya Allah kami diajarkan jadi orang yang kalau dikasih amanah tidak khianat. Kalau jadi pemimpin tidak korupsi, kalau jadi guru tidak menjual ijazah.
Indonesia sedang krisis teladan, bukan krisis sekolah. Dan di tengah krisis itulah pesantren berdiri sebagai pabrik manusia.
Serangan ke Pesantren = Serangan ke Akar Bangsa
Coba lihat sejarah. Siapa yang
mengusir penjajah? Santri dan Kiai.
Siapa yang mendirikan NU,
Muhammadiyah, madrasah pertama? Pesantren.
Siapa yang paling banyak membuka
sekolah gratis di pelosok? Pesantren.
Sekarang ketika bangsa ini mulai lupa arah, yang diserang justru kompasnya.
Fitnah di media itu wajar. Karena pesantren tidak punya buzzer. Yang kami punya cuma mimbar, bedug, majlis, dan doa Kiai jam 3 malam. Tapi lihat faktanya. Tiap ada bencana, yang pertama buka dapur umum siapa? Santri.
Tiap ada anak putus sekolah, yang
nampung siapa? Pesantren.
Tiap bulan Ramadhan, yang bikin masyarakat jadi dermawan siapa? Pesantren.
Kami Tidak Anti Kritik. Kami Anti Generalisasi
Sebagai santri Assujuudiyyah, kami terbuka. Kalau ada pesantren yang menyimpang, ya luruskan. Kalau ada Kiai yang salah, ya tegur. Islam juga mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar.
Tapi jangan karena 1 pohon busuk lalu 1 hutan dibakar. Jangan karena 1 oknum lalu 28 ribu pesantren distigma. Itu sama saja karena ada 1 dokter malpraktek lalu semua rumah sakit ditutup.
Yang kami minta hanya adil. Beritakan juga 10 ribu pondok yang mendidik anak yatim. Beritakan juga Kiai yang jual sawahnya untuk bangun pesantren. Beritakan juga santri yang hafal 30 juz lalu ngajar ngaji di kampung.
Penutup; Kami Akan Tetap Mondok
Mungkin media akan terus ramai, mungkin stigma akan terus ada. Tapi selama masih ada adzan subuh, selama masih ada kitab kuning dibuka, selama masih ada Kiai yang mau begadang demi santrinya, pesantren tidak akan mati. Karena pendidikan utama bukan yang paling modern gedungnya, tapi yang paling kuat pondasi akhlaknya.
"Saya bangga jadi santri Assujuudiyyah. Di sini saya tidak diajarkan membenci dunia, saya diajarkan menaklukkan dunia dengan ilmu dan akhlak".
Fitnah boleh merajalela di layar HP. Tapi di pelataran pesantren, lampu ngaji tetap menyala. Dan selama lampu itu masih menyala, Indonesia masih punya harapan.
Penulis: Ahmad Ulil Abshor, Santri
Pondok Pesantren Assujuudiyyah Demak.
Editor: Rohmad Sholeh
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar