Opini

Sejarah Terbentuknya Struktur Pemerintahan Kerajaan Demak Bintoro Abad XV (Bagian 1)

41 Dilihat 0 Komentar
Sejarah Terbentuknya Struktur Pemerintahan Kerajaan Demak Bintoro Abad XV (Bagian 1)

Oleh: Akhmad Nur Qosim

Pendahuluan

Lahirnya Kerajaan Demak Bintoro pada abad ke-15 merupakan babak baru yang menandai periodesasi sejarah di nusantara, yakni transisi kekuasaan dari era kekuasaan Hindu/Budha Majapahit menuju era Islam. Seiring dengan meredupnya dominasi politik Majapahit sebagai imperium terkuat pada era Hindu/Budha saat itu, secara perlahan Demak mengambil alih tampuk kepemimpinan geopolitik dan menjadi kerajaan Islam yang pertama dan terbesar di pulau Jawa. Sebenarnya, sebelum munculnya Kerajaan Demak Bintoro, di wilayah Demak telah muncul kerajaan Islam pertama yang didukung oleh kaum Kapitayan di wilayah Karangawen hingga Mranggen, namanya Kerajaan Ngesam. Kerajaan itu dipimpin oleh Syekh Muhammad Salim dari Gujarat. Namun setelah terjadinya banjir bandang tahun 1349-1350 M kerajaan itu bubar. Setelah munculnya Kerajaan Demak yang didukung oleh Dewan Walisongo, maka masyarakat Kapitayan di Demak melebur dengan kerajaan yang baru.

 

Keberhasilan Demak tidak hanya terletak pada posisinya yang strategis sebagai pusat perdagangan di pesisir pulau Jawa, namun juga dipengaruhi oleh tata kelola politik dan struktur pemerintahannya yang terorganisir menurut ukuran pada saat itu. Berbeda dengan kerajaan-kerajaan sebelumnya yang didasarkan pada konsep kultus “Dewa Raja”, Kerajaan Demak Bintoro menerapkan konsep ketatanegaraan yang berdasarkan perpaduan antara syariat Islam dengan nilai-nilai lokal tradisi Jawa sebelumnya.

 

Pengaruh masuknya Islam sangat berpengaruh terhadap terciptanya sistem hubungan sosial yang tidak lagi didasarkan pada kasta, melainkan sistem pergaulan yang egaliter (persamaan derajat). Karena itulah, tercipta sebuah harmoni dalam hubungan sosial bisa menjadi modal untuk memperkuat kemajuan dan pertahanan dari persaingan kekuatan politik lainnya. Dalam menjalankan rodanya, struktur pemerintahan Kerajaan Demak Bintoro menerapkan pola integrasi yang unik antara kepemimpinan keagamaan dengan kepemimpinan politik. Tentu hal ini tidak ada duanya bila dibandingkan dengan struktur-struktur pemerintahan negara yang berlangsung di era modern sekarang ini.

 

Membahas Demak dalam konteks struktur pemerintahan kerajaan, tentu tidak bisa hanya dilihat pada wilayah Kabupaten Demak pada abad XV, namun harus dipandang pada wilayah yang lebih luas lagi, misalnya Jepara, Kudus, Grobogan, Pati, Surabaya/Gresik, Lamongan, dan sebagainya. Bahkan bila perlu wilayah-wilayah di seberang lautan, seperti Palembang, Riau, Aceh, Malaka, dan sebagainya. Karena wilayah Kerajaan Demak bukan hanya seluas Kabupaten Demak namun sudah mencapai skala nasional dan regional Asia Tenggara.

 

Pada era sekarang ini, ketika negara dalam keadaan krisis kepemimpinan yang ditandai dengan menurunnya kewibawaan pemerintah, maka pengkajian terhadap model pemerintahan Kerajaan Demak Bintoro menjadi hal yang sangat penting. Sebab disamping dapat dipetik nilai-nilai pembelajarannya untuk kehidupan masa kini, sistem pemerintahan Kerajaan Demak Bintoro ternyata juga menjadi perintis yang kemudian diadopsi dan dikembangkan oleh kerjaan-kerajaan Jawa sesudahnya, misalnya Pajang, Mataram, dan sebagainya. Melalui pemahaman terhadap struktur pemerintahan ini, maka kita dapat membuat pemetaan bagaimana hukum Islam, politik patronase, dan politik diplomasi budaya dapat dilaksanakan.

 

Terbentuknya Kerajaan Demak Bintoro

Sebagai embrio atau cikal-bakal awal dari Kerajaan Demak Bintoro adalah berdirinya daerah kewalian (pesantren) yang dipimpin oleh Syekh Boyolangu (Syekh Ali Abdullah bin Muhammad Hasan Ibnul Ash Al-Maghribi). Beliau adalah seorang pemimpin gelombang pertama migrasi bangsa Maghribi Spanyol dari Granada pada tahun 1354 M di wilayah Boyolangu, Desa Tlogoboyo, Kecamatan Bonang, Demak. Jumlah rombongan migrasi ke Demak waktu itu diperkirakan sekitar enam sampai delapan kapal, dimana setiap kapalnya memuat sekitar 60 orang. Kehadirannya ke wilayah Demak memiliki motif politik, yakni  mencari suaka akibat terjadinya konflik yang berkepanjangan di negeri asalnya, Granada.

 

Kebetulan pada saat kapal rombongan Maghribi tersebut tiba di Boyolangu, bertepatan dengan kedatangan Patih Gajah Mada yang sedang meninjau kondisi wilayah Demak yang dilanda dampak bencana banjir yang cukup parah antara tahun 1349-1350 M. Sehingga pertemuan kedua tokoh yang tanpa sengaja tersebut, akhirnya membuahkan sebuah perjanjian. Patih Gajah Mada akhirnya memberikan suaka politik dan sekaligus memberikan izin kepada pendatang Maghribi tersebut untuk mendirikan daerah kewalian (pesantren) sebagai tempat tinggal dan tempat pendidikan agama Islam. Satu hal yang tidak diizinkan adalah membangun kekuatan politik dalam bentuk mendirikan kerajaan Islam. Bagi Gajah Mada, alasan agama Islam sebagaimana dibawa oleh pendatang Maghribi tersebut diizinkan untuk berkembang di tanah Jawa, dikarenakan dianggap sama dengan agama Kapitayan yang sama-sama bersifat Monoteisme (menyembah satu Tuhan).

 

Sebelum kedatangan rombongan Maghribi, sebagaimana daerah-daerah lain di Pulau Jawa selain dihuni oleh penganut agama Hindu, juga terdapat penganut Kapitayan. Keberadaan penganut Hindu di wilayah Demak dapat dibuktikan dengan keberadaan peninggalan reruntuhan candi, arca, dan yoni yang tersebar di beberapa daerah. Misalnya di situs Dewi Durga di Desa Pidodo Kecamatan Karangtengah, Arca Ganesa di Desa Blerong Kecamatan Guntur, dan berbagai reruntuhan candi di desa Trimulyo, Jatirogo, Tridonorejo, Kecamatan Bonang dan reruntuhan candi Dukuh Demung, Desa Pilangrejo, Kecamatan Wonosalam. Namun ketika terjadi banjir bandang hampir semua penganut Hindu di wilayah Demak berpindah ke Rahtawu (sebuah tempat di lereng barat Gunung Muria). Di sana, mereka berkumpul dengan sesama komunitasnya penganut Hindu.

 

Adapun para penganut agama Kapitayan yang bertempat tinggal di sepanjang bukit Karangawen hingga Mranggen tetap bertahan di sana. Kondisi tanahnya yang relatif cukup tinggi menyebabkan daerah tersebut dapat bertahan dari genangan banjir. Bukti dari keberadaan penganut Kapitayan di sana adalah adanya beberapa penemuan benda cagar budaya, terutama Situs Watu Bale di Pucanggading, Desa Batursari, Kecamatan Mranggen, Demak. Demikian pula di area yang sama juga ditemukan Watu Nganten, yakni sepasang dua buah batu  yang diibaratkan seperti sepasang penganten. Situs-situs tersebut dulunya berfungsi sebagai media pemujaan kaum Kapitayan yang ditinggal di perbukitan Demak.

 

Sejak berdirinya pesantren Boyolangu, maka muncul pula pesantren-pesantren lainnya. Misalnya Pesantren Bonang yang dipimpin Sunan Bonang Sepuh (Syekh Abdullah Hasan Bakem Al-Maghribi), Pesantren di Banjarsari Sayung yang dipimpin Mbah Surodipo (Syekh Abdullah Bukhori bin Akhmad Bukhori Al-Maghribi), Pesantren Glagahwangi Demak dipimpin oleh Syekh Maulana Mudhofar Malik Hasan Al-Maghribi (Sykeh Maulana Maghribi Demak), Pesantren Kadilangu yang dipimpin oleh Syekh Kadilangu (Syekh Muhammad Basyir Hurqi bin Ali Abdullah bin Muhammad Hasan Ibnul Ash Al-Maghribi). Selanjutnya ada Pesantren Muria yang dipimpin Syekh Hasan Sadzili, Pesantren Kudus dipimpin oleh Syekh Jumadil Kubro Terboyo (Syekh Muhammad Ja’far Usman Al-Quds/Sunan Kudus I), Pesantren Lasem dipimpin oleh Syekh Muhammad Syarif (Sunan Bonan V) dari Champa, Pesantren di Juwana dipimpin oleh Sunan Ngerang (Syekh Muhammad Nurul Yaqin), Pesantren Syekh Maulana Maghribi Ujung Negoro Kabupaten Batang dan sebagainya.

 

Banyaknya daerah-daerah kewalian yang tersebar di pulau Jawa melahirkan gagasan untuk mendirikan organisasi  dakwah Islam yang lebih besar yang disebut Dewan Walisongo. Berdirinya Dewan Walisongo tidak lepas dari ketokohan Syekh Maulana Maghribi Demak yang makamnya berada di belakang Masjid Agung Demak. Beliaulah yang membangun perkampungan Glagahwangi tahun 1387 M dan Pesantren Glagahwangi tahun 1391 M. Pesantren inilah yang menurut naskah Babad dikatakan sebagai Pesantren yang dibangun oleh Raden Fatah, padahal saat berdirinya pesantren ini Raden Fatah belum lahir, karena beliau lahir tahun 1448 M. Sayangnya sebelum Dewan Walisongo terbentuk, Syekh Maulana Maghribi keburu wafat tahun 1457 M.

 

Perjuangan mendirikan Dewan Walisongo akhirnya dilanjutkan oleh menantunya yang bernama Syekh Muhammad Abudin Al-Maghribi atau terkenal dengan sebutan Sunan Ampel ke-1 (gurunya Sunan Ampel Surabaya). Maka berdasarkan hasil sidang pertama para Waliyullah se tanah Jawa pada tahun 1463 M dan dilanjutkan pada tahun 1466 M diputuskan pembentukan Dewan Walisongo. Dalam sidang pertama para wali se tanah Jawa, sebagai panitia sebanyak 10 tokoh, di antaranya Syekh Abdullah Hasan Bakem Al-Maghribi (Sunan Bonang ke-1), dan kawan-kawan dan dihadiri sebanyak 46 para Wali yang diundang. Kemudian dalam sidang kedua dihadiri oleh para waliyullah yang hadir pada sidang pertama, kecuali tujuh orang karena ada halangan dan sebagian meninggal dunia.

 

Syekh Jumadil Kubro Troloyo (Syekh Muhammad Ja’far Usman Al-Quds) yang seharusnya hadir dalam sidang ke-2 pembentukan Dewan Walisongo, namun tidak bisa hadir karena ada tugas khusus dari Dewan Wali Demak untuk memantau perkembangan politik di Majapahit berkenaan dengan perang saudara (Perang Paregreg) serta memfasiltasi para pemuda dari Demak yang belajar di Majapahit. Fase terpenting dari cikal-bakal berdirinya Kerajaan Demak Bintoro setelah pada tahun 1474 M terkirim laporan dokumen rahasia dari Syekh Jumadil Kubro Troloyo (Muhammad Ja’far Usman Al-Quds) kepada Sunan Bonang ke-1 yang waktu itu telah menjabat sebagai ketua Dewan Walisongo. Dokumen rahasia tersebut berisi tentang kondisi politik Majapahit yaitu terjadinya konflik antara Bhre Pandansalas (Suraprabawa) yang dibantu Bhre Kertabumi melawan Girindra Wardhana Dyah Wijaya Karana. Karena konflik tersebut, maka membuat kedua raja kembar Majapahit meninggal dan kemudian naiklah Bre Kartabumi menjadi raja Majapahit. Nama Syekh Jumadil Kubro sejatinya nama sandi dari seseorang petugas yang mengirimkan surat dokumen rahasia tentang kondisi politik terkini dari Majapahit pada bulan Jumadil Awal 879 H/ Oktober 1474 M. Jumadil Kubro sesungguhnya nama bulan Jumadil Awal.

 

Anggota Dewan Walisongo adalah para waliyullah, mereka adalah para tokoh yang sangat hebat. Meskipun kendali politik berada di tangan mereka, namun tidak ada satupun dari  mereka yang berambisi menjadi raja. Mungkin karena menyadari, bahwa kebanyakan berasal dari negeri Maghribi Spanyol, Palestina, Gujarat, dan sebagainya. Jabatan raja Demak tetap diharapkan berasal dari keturunan Majapahit untuk menunjukkan estafet kesinambungan. Kesempatan itu muncul ketika terjadi pergolakan politik, di mana ayah Raden Fatah yang bernama Dyah Samara Wijaya (Brawijaya III) yang dikudeta oleh mertua (dari istri pertamanya) dari kedudukannya sebagai Raja Majapahit yang telah didudukinya selama tiga tahun (1453-1456 M).

 

Berita itu menjadikan Syekh Maulana Ishaq diberi tugas Dewan Walisongo untuk menjemputnya dari Trowulan untuk dibawa ke Demak. Pada tahun 1456 M terpaksa Dyah Samara Wijaya, beserta istri keduanya (Ibu Raden Fatah), dan Raden Fatah hijrah ke Demak dengan dikawal oleh Senopati Purowijoyo dan Senopati Kertoseno. Namun sesampainya di Demak, perjalanan hijrah dilanjutkan ke Karawang dan Palembang dengan dikawal Laksamana Aria Damar/Swan Liong (menantu Syekh Maulana Ishaq). Selanjutnya keluarga raja yang kurang beruntung itu menetap di Palembang selama delapan tahun (1456-1464 M). Pada tahun 1464 M Raden Fatah dipanggil lagi oleh Dewan Wali untuk kembali ke Demak. Setelah tinggal di Demak selama 11 tahun untuk mendalami agama, bergaul dengan anggota Dewan Walisongo, dan telah mendapatkan kepercayaan maka tibalah saatnya pelantikan Raden Fatah sebagai Raja Demak pada tahun 1475 M.

 

Dengan menyimak sejarah latar belakang pelantikan Raden Fatah sebagai Raja Kerajaan Demak Bintoro dapat diketahui, bahwa pendirian kerajaan semata-mata merupakan keputusan politik dari Dewan Walisongo, bukan semata-mata kekuatan dari Raden Fatah sendiri. Oleh karena itu menjadi salah bila dikatakan Kerajaan Demak Bintoro didirikan oleh Raden Fatah. Sebaliknya yang benar adalah Kerajaan Demak Bintoro didirikan oleh Dewan Walisongo. Bagi Dewan Walisongo, pendirian kerajaan tersebut tentu merupakan keputusan politik yang sangat luar biasa. Keputusan itu didasarkan atas  informasi rahasia dari Syekh Jumadil Kubro Troloyo (Syekh Muhammad Ja’far Ustman Al-Quds) tentang kondisi internal Majapahit yang terjadi perpecahan akibat perebutan kekuasaan antara Girinda Wardhana dan Bhre Wirabumi tahun 1474 M.

 

Dengan peristiwa itu Dewan Walisongo berkeinginan membentuk negara sendiri dan memisahkan diri dari Majapahit yang dipimpin oleh Prabu Kertabumi (Brawijaya V). Setelah mencermati isi surat Syekh Jumadil Kubro Troloyo maka sidang akbar Dewan Walisongo ke-9 diadakan dengan agenda utama menyikapi peristiwa yang terjadi di Majapahit. Sidang akbar tersebut dilaksanakan pada tanggal 11-14 Dzulhijjah 879 M/18-21 April 1475 M yang salah satu agendanya adalah membentuk pemerintahan sendiri yang terlepas dari Kerajaan Majapahit. Bak gayung bersambut semua anggota sidang menyetujui secara bulat. Adapun lokasi yang dipilih sebagai ibukota kerajaan adalah daerah Glagahwangi.

 

Pelantikan Raja Kerajaan Demak Bintoro dan seluruh jajarannya dilaksanakan pada hari Jumat Pon tanggal 21 April 1475 M atau tanggal 14 Dzulhijjah 879 H. Beberapa nama tokoh yang dilantik dan disumpah pada hari itu adalah 1) Raden Fatah bin Dyah Samara Wijaya sebagai Raja; 2) Ronggo Tohjoyo sebagai Patih Mangkubumi (Kepala Pemerintahan/Perdana Menteri); 3) Laksamana Aria Damar sebagai Kepala Angkatan Laut; 4) Syekh Maulana Abdurrahman Teuku Baha sebagai Panglima Angkatan Darat; 5) Senopati Abdurrahman Boto Putih sebagai Adipati Jepara. Pelantikan itu dilakukan oleh ketua Dewan Walisongo Pertama yang sekaligus merangkap jabatan sebagai Ketua Majelis Syuro Kerajaan Demak Bintoro, yakni Syekh Maulana Abdullah Hasan Bakem Al-Maghribi.

 

Penulis: Akhmad Nur Qosim, Ketua Masyarakat Pemerhati Sejarah Demak (MPSD).

Editor: Rohmad Sholeh

Bagikan:
 Akhmad Nur Qosim
Akhmad Nur Qosim

Penulis lepas di NU Demak

Lihat Semua Tulisan

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar
Membalas komentar dari