Oleh: Akhmad Nur
Qosim
NU Online Demak, - Kerajaan Demak Bintoro yang tumbuh dan berkembang
di wilayah pesisir utara abad ke-15-16 merupakan salah satu kekuatan politik maritim
pertama yang sangat maju dalam bidang penyebaran Islam dan perdagangan di
kawasan nusantara. Letak geografis yang sangat strategis menghubungkan kawasan
Indonesia bagian barat (Jawa, Sumatra, dan Semenanjung Melayu) dan timur (Sulawesi,
Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua) telah melahirkan tradisi maritim yang sangat
kuat. Untuk mendukung peran tersebut tentu dibutuhkan armada angkatan laut yang
sangat kuat yang bisa mengendalikan laut sebagai sarana politik, ekonomi, dan
militer. Dalam hal ini kekuatan angkatan laut menjadi kunci pokok utama bagi
kelangsungan pertahanan dan perluasan pengaruh Kerajaan Demak Bintoro ke
seluruh kawasan nusantara.
Kejayaan armada
Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro, tentu bukan hanya dapat diukur dari jumlah
kapal dan tonase daya muatnya (kapal jung), melainkan juga menyangkut teknologi
pelayaran, taktik tempur di laut, infrastruktur maritim, perbekalan, pengorganisasian
angkatan laut, dan sebagainya. Bagi kerajaan yang bercorak maritim, armada
Angkatan Laut sangat berperan dalam melindungi rute perdagangan, menegakkan
pengaruh kekuasaan wilayah di seberang lautan, serta melakukan ekspedisi
militer terhadap segala bentuk ancaman, baik yang bersifat regional maupun
internasional. Selain itu, kekuatan armada angkatan laut juga merupakan legitimasi
politik. Sebab dengan angkatan laut yang kuat maka akan memperkuat posisi raja
dan para pejabat kerajaan yang bergantung kepada kekuatan laut untuk
mempertahankan wilayah pantai dan pelabuhan penting.
Karena para
pendiri Kerajaan Demak Bintoro umumnya merupakan imigran dari berbagai penjuru
dunia, seperti Maghribi Spanyol, Gujarat, Persia, China, Arab Palestina, dan
sebagainya, maka secara kultural kekuatan maritim tersebut merupakan perpaduan
pengetahuan dan teknis dari lokal dengan pengaruh dari luar. Pengetahuan dan
teknis tersebut kemudian dipadukan dengan praktik pelayaran Asia Tenggara yang
sangat tergantung dengan angin muson barat dan timur, maka pelaut-pelaut muslim
kemudian menghasilkan teknologi pelayaran yang sesuai dengan perairan nusantara.
Di sisi lain terjadinya pengalaman konflik dengan kekuatan kolonial Portugis
abad ke-16 ikut mempengaruhi perkembangan hegemoni kawasan maritim nusantara.
Dengan mengkaji
kejayaan armada maritim, tulisan ini berusaha menjelaskan bagaimana kekuatan Angkatan
Laut Kerajaan Demak Bintoro dalam menghadapi ancaman dari asing dan kawasan
regional. Selama ini sedikit sekali sumber sejarah yang menggambarkan bagaimana
kejayaan Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro, kecuali hanya dua peristiwa,
yakni serangan Demak terhadap posisi Portugis di Malaka dan kemudian serangan
terhadap Portugis di Sunda Kelapa. Itupun narasinya sudah dibelokkan, dimana
dalam serangan Demak terhadap Portugis di Malaka tahun 1512 M dan 1521 M mengalami
kegagalan, bahkan menewaskan pemimpinnya yang bernama Adipati Unus yang
kemudian disebut dengan Pangeran Sabrang
Lor. Hanya satu narasi yang mengakui kemenangan Kerajaan Demak Bintoro melawan
Portugis, yakni serangan Demak terhadap Sunda Kelapa tahun 1526-1527 M.
Konflik-konflik yang lain tentang pertempuran antara Demak dan Portugis seperti
tenggelam oleh waktu.
Rupanya sulit
sekali mendapatkan narasi sejarah yang menggambarkan konflik antara Demak
dengan Portugis, kecuali sedikit. Oleh karena itu penulis mencoba menyajikan
versi baru mengenai kejayaan Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro sejak tahun
1475 M hingga 1616 M yang sebagian narasinya dari hasil wawancara pada tanggal
12 Agustus 2026 dengan Kyai A.K.A. Hasan, Sejarawan Kerajaan Demak Bintoro dan
Walisongo.
Sebagaimana
buku-buku sejarah yang dipelajari oleh para siswa sekolah, bahwa konflik antara
Demak dan Portugis itu terutama disebabkan oleh ambisi Portugis untuk
memonopoli perdagangan rempah-rempah setelah Malaka jatuh pada tahun 1511 M.
Kehadiran Portugis yang menguasai jalur Selat Malaka telah memutus jalur
perdagangan maritim Kerajaan Demak Bintoro sebagai pemasok utama beras ke
wilayah Malaka dan sekitarnya. Kemudian faktor kedua adalah terjadinya aliansi
kerajaan Sunda dengan Portugis. Bentuk aliansi itu tertulis dalam sebuah batu prasasti
yang disebut Tugu Padrao Sunda Kelapa yang dibuat pada tanggal 21 Agustus 1522.
Perjanjian kerjasama ini jelas telah memicu amarah Kerajaan Demak Bintoro.
Sebab dengan kerjasama itu dikahawatirkan mempersempit gerak pengaruh maritim
Demak ke wilayah nusantara bagian barat. Dalam hal ini Kerajaan Demak Bintoro
memiliki kepentingan untuk menyebarkan agama Islam dan pengembangan kekuasaan
ke wilayah nusantara bagian barat.
Permasalahan
utama terjadinya permusuhan antara Kerajaan Demak Bintoro dengan Portugis sebenarnya
bukan hanya masalah rempah-rempah, namun ada juga motif agama. Sebagaimana
tujuan penjelajahan samodera yang dipelopori oleh Spanyol dan Portugis, bahwa kedatangan
bangsa Eropa ke dunia Timur didasari oleh semboyan Gold, Gospel, dan Glory. Ini
berarti kedatangan bangsa Portugis ke nusantara bukan hanya untuk urusan
ekonomi dan kejayaan negara tetapi juga motif agama.
Sejak
berakhirnya Perang Salib yang ditandai dengan jatuhnya kota Acre ke tangan
dinasti Mamluk pada tahun 1291 M dan jatuhnya kota Konstantinopel ke tangan
Turki Usmani pada tahun 1453 M, kedua peristiwa bersejarah itu sangat
berpengaruh kepada munculnya keinginan Portugis dan Spanyol untuk melakukan
Kristenisasi terhadap wilayah-wilayah baru yang mereka temukan baik di Amerika,
Afrika, maupun Asia. Terlebih lagi saat menjelang jatuhnya wilayah Granada
tahun 1492 M oleh Raja Ferdinan dan Ratu Isabela, dimana banyak sekali
orang-orang Maghribi Spanyol yang bermigrasi ke nusantara untuk menyebarkan
Islam, hal itu menyebabkan bangsa Portugis dan Spanyol semakin bersemangat
untuk menghalangi usaha mereka.
Sesampainya di
Jawa, mayoritas para imigran Maghribi Spanyol berhasil mendirikan organisasi
dakwah terbesar di nusantara yang disebut dengan Dewan Walisongo. Dewan
Walisongo adalah sebuah organisasi dakwah para wali yang dibentuk berdasarkan
sidang para wali se jawa pada tahun 1463 M dan dilanjutkan pada tahun 1466 M.
Dewan ini selain berfungsi sebagai organisasi dakwah para ulama, juga berfungsi
sebagai lembaga sejenis MPR yang memiliki fungsi melantik dan menyumpah
raja-raja Demak yang dipilih. Salah satu kerajaan Islam yang berhasil didirikan
oleh para imigran Maghribi Spanyol adalah Kerajaan Demak Bintoro pada tahun
1475 M. Selain sebagai dewan penasehat raja, Dewan Walisongo juga berhak merekomendasikan
berdirinya daerah-daerah kewalian (komplek pasantren) yang kedudukannya setara
dengan kadipaten.
Beberapa daerah
kewalian yang ada pada masa Kerajaan Demak Bintoro, misalnya Pesantren
Boyolangu yang dipimpin Syekh Boyolangu (Syekh Ali Abdullah bin Muhammad Hasan
Ibnul Ash Al-Maghribi), Pesantren Glagahwangi Demak dipimpin oleh Syekh Maulana
Mudhofar Malik Hasan Al-Maghribi, Pesantren Bonang yang dipimpin Sunan Bonang Sepuh
(Syekh Abdullah Hasan Bakem Al-Maghribi), Pesantren Kadilangu yang dipimpin
oleh Syekh Kadilangu (Syekh Muhammad Basyir Hurqi bin Ali Abdullah bin Muhammad
Hasan Ibnul Ash Al-Maghribi). Selanjutnya ada Pesantren di Banjarsari Sayung
yang dipimpin Mbah Surodipo (Syekh Abdullah Bukhori bin Akhmad Bukhori
Al-Maghribi), Pesantren Muria yang dipimpin Syekh Hasan Sadzili, Pesantren
Lasem dipimpin oleh Syekh Muhammad Syarif (Sunan Bonang V) dari Champa, dan
sebagainya.
Keberhasilan
para imigran Maghribi Spanyol dalam penyebaran Islam di nusantara itu menjadikan
keprihatinan Ratu Isabella dari Kerajaan Kastilia dan Raja Ferdinand dari
Kejaraan Aragon, yang dikemudian hari setelah keduanya menikah dan menyatukan
kerajaan berhasil merebut Granada dari tangan penguasa Muslim pada tahun 1492 M.
Penelitian A.K.A. Hasan menyebutkan bahwa, Alfonso de Albuguerque sesungguhnya
adalah anak angkat Ratu Isabella dan Vasco de Gama merupakan anak angkat dari
Raja Ferdinand. Selanjutnya juga diketahui bahwa Tome Pires adalah sekretaris
dari Alfonso de Albuquerque. Mereka memang sengaja di kirim ke nusantara
melalui Goa India untuk menahan laju Islamisasi yang berlangsung sangat masif
di nusantara. Karena itulah permusuhan antara Portugis dengan Demak terjadi.
Berkaitan dengan
pembentukan Angkatan Laut yang kuat, maka pada saat pelantikan Raden Fatah sebagai
Raja Kerajaan Demak Bintoro tahun 1475 M, maka dilantik pula Panglima Angkatan
Laut yang pertama, yakni Aria Damar/Swan Lion/Rahmat Hidayatullah atau yang
dikenal sebagai Kyai Palembang. Ia menjabat sejak tahun 1475-1496 M. Setelah mundur
dari jabatannya kemudian dilanjutkan secara berurut-urut oleh Abdurrahman
Singkil (Kyai Singkil) tahun 1496-1536 M, Joyo Hadi Kusumo atau Sunan Hadi (putra
ke-5 Sunan Kalijaga dari istri ke-1) tahun 1536-1543 M, Fatahillah/Faletehan (1543-1564
M), Aria Penangsang (putra Surowiyoto bin Raden Fatah) tahun 1564-1586 M, dan
Tumenggung Prayogo (1586-1616 M) yang juga menjabat Pelaksana Patih Mangkubumi
tahun 1601-1616 M.
Kerajaan Demak
Bintoro merupakan kerajaan yang bercorak maritim, hal ini dikarenakan posisinya
yang mengahadap ke Selat Muria dan Laut Jawa. Untuk melengkapi kekuatan angkatan
laut, maka dilantik pula panglima-panglima Angkatan Darat Kerajaan Demak
Bintoro, yang meliputi: 1) Abdurrahman Teuku Baha pada tahun 1475-1479 M; 2) Mahdum
Ibrahim Sampang (1479-1509 M); 3) Ja’far
Shodiq (1509-1525 M); 4) Teuku Muhammad Thoha (Syekh Brojodento) tahun 1525-1543
M; 5) Arya Widhi (1543-1549 M); 6) Poncowati (1549-1582 M); dan Haryo
Penangsang tahun 1549-1601 M.
Berdasarkan
penjelasan dari sumber Babad, Aria Damar
dikatakan sebagai ayah tiri dari Raden Fatah. Sebab Aria Damar menikahi
ibunya yang bernama Siu Ban Ci binti Syekh Bentong atau Tan Go Hwat setelah
diceraikan oleh ayah Raden Fatah yang bernama Prabu Kertabumi (Brawijaya V).
Penjelasan itu tidak benar, sebab hubungan Raden Fatah dengan Siu Ban Ci adalah
anak dengan mertua. Meskipun bukan menantu secara langsung, karena yang menjadi
ibu mertua Raden Fatah sesungguhnya istri kedua dari Aria Damar yang bernama
Dewi Khoirun Nisa binti Syekh Maulana Ishaq. Sedangkan Siu Ban Ci adalah istri
pertama Aria Damar yang wafat tahun 1451 M. Tempat makamnya Siu Ban Ci adalah
di kompleks Pendopo Kabupaten Demak yang terkenal dengan sebutan makam Putri
Campa.
Laksamana Aria
Damar adalah peletak dasar pembangunan Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro.
Strategi yang dikembangkan dalam membangun armada maritim tersebut adalah
membangun infrastruktur pangkalan angkatan laut dan pelabuhan dalam Kotaraja
Demak Bintoro dan di sepanjang Pantai Utara Jawa. Selanjutnya yang tidak kalah
penting adalah penataan struktur organisasi Angkatan Laut Kerajaan Demak
Bintoro yang memiliki garis komando dari atas ke seluruh pangkalan angkatan
laut yang tersebar di seluruh Jawa dan Sumatra. Beberapa infrastruktur pangkalan
angkatan laut yang dibangun oleh Aria Damar adalah Pangkalan Angkatan Laut
Kotaraja Demak Bintoro yang berpusat di jalur Sungai Tuntang sisi Selatan yang
ada di Kampung Kenep Mangunjiwan. Sedangkan sisi Utara Sungai Tuntang Kampung
Kenep diperuntukkan sebagai pelabuhan niaga.
Pangkalan
Angkatan Laut kedua di sungai Tuntang adalah di Gebangarum. Lokasi sekarang
tepatnya di Pasar Gebang. Secara toponimi “Gebang” berasal dari kata “gerbang”.
Secara bahasa gerbang adalah sebuah tempat yang ditandai dengan pintu penjagaan
untuk keluar dan masuk menuju kawasan yang tertutup atau terjaga secara ketat. Dengan
demikian bekas lokasi pasar Gebang itu dulunya merupakan pintu gerbang yang
menghubungkan jalur kapal dari Laut Jawa dan Selat Muria menuju Sungai Tuntang
sebelum memasuki Kotaraja Demak Bintoro. Lebar Sungai Tuntang pada abad 15 hingga
16 diperkirakan mencapai 100 meter lebih, sehingga bisa dilalui kapal-kapal
besar yang berlayar dari arah pesisir menuju pedalaman Jawa Tengah atau
sebaliknya. Jalur muara Sungai Tuntang bermuara terlebih dahulu ke Selat Muria,
sebelum mencapai Laut Jawa. Lebar Selat Muria pada saat itu diperkirakan
sekitar dua kilometer lebih.
Adapun beberapa
pertahanan laut di pesisir utara Laut Jawa mulai dari timur ke barat ada sekitar
13 pangkalan. Tempat-tempat tersebut adalah: Ujung Galuh (Surabaya), Gresik,
Lamongan, Tuban, Teluk Lasem, Juwana, Tedunan (Jepara), Terboyo, Ujungnegoro
(Batang), Tegal, Cirebon, Karawang, Sunda Kelapa, dan Bojanegara (Banten).
Kemudian setelah Kerajaan Demak Bintoro
mengalami perkembangan, terjadi perluasan pengaruh ke wilayah sekitar Selat
Malaka, maka pembangunan pangkalan angkatan laut dilanjutkan ke Palembang,
Jambi, Riau, dan Aceh.
Setelah semua
infrastruktur angkatan laut terbentuk, kemudian diangkat para pejabat yang
mengepalai pangkalan-pangkalan angkatan laut dengan jabatan yang setara dengan
Senopati. Semua Senopati yang diangkat adalah keluarga kerajaan yang telah
mendapatkan pendidikan di Akedemi Militer Angkatan Laut yang letaknya di sekitar
Pendopo Kabupaten Demak. Sedangkan tempat pelatihannya di sekitar kampung
tembiring. Sebagai bukti bahwa lokasi sekitar pendopo adalah lokasi markas
adalah adanya beberapa tokoh dan keluarganya, beserta para prajurit angkatan
laut yang juga dimakamkan di komplek Pendopo Kabupaten Demak, seperti Aria
Damar/Kyai Palembang, Siu Ban Ci, Kyai Singkil, Kyai Mughni, Kyai Jebat, dan
sebagainya.
Panglima
Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro yang ke-2 adalah Abdurrahman Singkil. Ia
menjabat antara tahun 1496-1536 M bertepatan dengan kekuasaan Raja Raden Fatah,
Adipati Unus, Raden Surowiyoto, sampai dengan pertengahan Raja Trenggono. Prestasi
penting ketika Laksamana Angkatan Laut dijabat oleh Abdurrahman Singkil adalah
serangan militer Demak ke Portugis di Malaka tahun 1512-1515 M. Sebelum
menguasai Malaka, pangkalan utama Portugis berada di Goa pantai barat India.
Setelah berangkat dari Tanjung Verde dan berhasil mencapai Tanjung Harapan,
Portugis di bawah Vasco de Gama berhasil mencapai pantai Calicut India pada
bulan Mei tahun 1498. Sedangkan pada pelayaran berikutnya tahun 1510 M Portugis
berhasil menguasai Goa sampai tahun 1561 M. Sejak itulah Goa berhasil dijadikan
pangkalan utama Portugis di India untuk berikutnya dilanjutkan oleh Alfonso de
Albuquerque ke Malaka.
Alfonso de
Albuquerque berhasil tiba di Malaka pada tahun 1509M dan selanjutnya tahun 1511
M mereka berhasil menguasainya. Setelah Malaka jatuh, Portugis bertindak
sewenang-wenang. Mereka melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah,
menerapkan pajak yang tinggi terhadap kapal-kapal dari para pedagang Arab yang
melewati selat Malaka, dan melakukan Kristenisasi. Setelah jatuhnya Malaka,
jalur pelayaran dari para pedagang-pedagang Islam beralih ke jalur sebelah
barat Sumatra (Samudera Hindia) dan masuk ke Laut Jawa melalui Selat Sunda.
Dengan demikian maka pihak yang paling banyak dirugikan adalah Kerajaan Demak
Bintoro. Sebab selama ini Demak merupakan pemasok utama beras ke wilayah
Malaka.
Penulis: Akhmad Nur
Qosim, Ketua Masyarakat Pemerhati Sejarah Demak (MPSD) Periode 2026-2031.
Editor: Rohmad Sholeh
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar