Opini

Mengenang Kejayaan Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro Abad XV-XVI (Bagian 1)

41 Dilihat 0 Komentar
Mengenang Kejayaan Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro Abad XV-XVI (Bagian 1)

Oleh: Akhmad Nur Qosim

NU Online Demak, - Kerajaan Demak Bintoro yang tumbuh dan berkembang di wilayah pesisir utara abad ke-15-16 merupakan salah satu kekuatan politik maritim pertama yang sangat maju dalam bidang penyebaran Islam dan perdagangan di kawasan nusantara. Letak geografis yang sangat strategis menghubungkan kawasan Indonesia bagian barat (Jawa, Sumatra, dan Semenanjung Melayu) dan timur (Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua) telah melahirkan tradisi maritim yang sangat kuat. Untuk mendukung peran tersebut tentu dibutuhkan armada angkatan laut yang sangat kuat yang bisa mengendalikan laut sebagai sarana politik, ekonomi, dan militer. Dalam hal ini kekuatan angkatan laut menjadi kunci pokok utama bagi kelangsungan pertahanan dan perluasan pengaruh Kerajaan Demak Bintoro ke seluruh kawasan nusantara.

 

Kejayaan armada Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro, tentu bukan hanya dapat diukur dari jumlah kapal dan tonase daya muatnya (kapal jung), melainkan juga menyangkut teknologi pelayaran, taktik tempur di laut, infrastruktur maritim, perbekalan, pengorganisasian angkatan laut, dan sebagainya. Bagi kerajaan yang bercorak maritim, armada Angkatan Laut sangat berperan dalam melindungi rute perdagangan, menegakkan pengaruh kekuasaan wilayah di seberang lautan, serta melakukan ekspedisi militer terhadap segala bentuk ancaman, baik yang bersifat regional maupun internasional. Selain itu, kekuatan armada angkatan laut juga merupakan legitimasi politik. Sebab dengan angkatan laut yang kuat maka akan memperkuat posisi raja dan para pejabat kerajaan yang bergantung kepada kekuatan laut untuk mempertahankan wilayah pantai dan pelabuhan penting. 

 

Karena para pendiri Kerajaan Demak Bintoro umumnya merupakan imigran dari berbagai penjuru dunia, seperti Maghribi Spanyol, Gujarat, Persia, China, Arab Palestina, dan sebagainya, maka secara kultural kekuatan maritim tersebut merupakan perpaduan pengetahuan dan teknis dari lokal dengan pengaruh dari luar. Pengetahuan dan teknis tersebut kemudian dipadukan dengan praktik pelayaran Asia Tenggara yang sangat tergantung dengan angin muson barat dan timur, maka pelaut-pelaut muslim kemudian menghasilkan teknologi pelayaran yang sesuai dengan perairan nusantara. Di sisi lain terjadinya pengalaman konflik dengan kekuatan kolonial Portugis abad ke-16 ikut mempengaruhi perkembangan hegemoni kawasan maritim nusantara.

 

Dengan mengkaji kejayaan armada maritim, tulisan ini berusaha menjelaskan bagaimana kekuatan Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro dalam menghadapi ancaman dari asing dan kawasan regional. Selama ini sedikit sekali sumber sejarah yang menggambarkan bagaimana kejayaan Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro, kecuali hanya dua peristiwa, yakni serangan Demak terhadap posisi Portugis di Malaka dan kemudian serangan terhadap Portugis di Sunda Kelapa. Itupun narasinya sudah dibelokkan, dimana dalam serangan Demak terhadap Portugis di Malaka tahun 1512 M dan 1521 M mengalami kegagalan, bahkan menewaskan pemimpinnya yang bernama Adipati Unus yang kemudian disebut dengan Pangeran Sabrang Lor. Hanya satu narasi yang mengakui kemenangan Kerajaan Demak Bintoro melawan Portugis, yakni serangan Demak terhadap Sunda Kelapa tahun 1526-1527 M. Konflik-konflik yang lain tentang pertempuran antara Demak dan Portugis seperti tenggelam oleh waktu.

 

Rupanya sulit sekali mendapatkan narasi sejarah yang menggambarkan konflik antara Demak dengan Portugis, kecuali sedikit. Oleh karena itu penulis mencoba menyajikan versi baru mengenai kejayaan Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro sejak tahun 1475 M hingga 1616 M yang sebagian narasinya dari hasil wawancara pada tanggal 12 Agustus 2026 dengan Kyai A.K.A. Hasan, Sejarawan Kerajaan Demak Bintoro dan Walisongo.

 

Sebagaimana buku-buku sejarah yang dipelajari oleh para siswa sekolah, bahwa konflik antara Demak dan Portugis itu terutama disebabkan oleh ambisi Portugis untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah setelah Malaka jatuh pada tahun 1511 M. Kehadiran Portugis yang menguasai jalur Selat Malaka telah memutus jalur perdagangan maritim Kerajaan Demak Bintoro sebagai pemasok utama beras ke wilayah Malaka dan sekitarnya. Kemudian faktor kedua adalah terjadinya aliansi kerajaan Sunda dengan Portugis. Bentuk aliansi itu tertulis dalam sebuah batu prasasti yang disebut Tugu Padrao Sunda Kelapa yang dibuat pada tanggal 21 Agustus 1522. Perjanjian kerjasama ini jelas telah memicu amarah Kerajaan Demak Bintoro. Sebab dengan kerjasama itu dikahawatirkan mempersempit gerak pengaruh maritim Demak ke wilayah nusantara bagian barat. Dalam hal ini Kerajaan Demak Bintoro memiliki kepentingan untuk menyebarkan agama Islam dan pengembangan kekuasaan ke wilayah nusantara bagian barat.

 

Permasalahan utama terjadinya permusuhan antara Kerajaan Demak Bintoro dengan Portugis sebenarnya bukan hanya masalah rempah-rempah, namun ada juga motif agama. Sebagaimana tujuan penjelajahan samodera yang dipelopori oleh Spanyol dan Portugis, bahwa kedatangan bangsa Eropa ke dunia Timur didasari oleh semboyan Gold, Gospel, dan Glory. Ini berarti kedatangan bangsa Portugis ke nusantara bukan hanya untuk urusan ekonomi dan kejayaan negara tetapi juga motif agama.

 

Sejak berakhirnya Perang Salib yang ditandai dengan jatuhnya kota Acre ke tangan dinasti Mamluk pada tahun 1291 M dan jatuhnya kota Konstantinopel ke tangan Turki Usmani pada tahun 1453 M, kedua peristiwa bersejarah itu sangat berpengaruh kepada munculnya keinginan Portugis dan Spanyol untuk melakukan Kristenisasi terhadap wilayah-wilayah baru yang mereka temukan baik di Amerika, Afrika, maupun Asia. Terlebih lagi saat menjelang jatuhnya wilayah Granada tahun 1492 M oleh Raja Ferdinan dan Ratu Isabela, dimana banyak sekali orang-orang Maghribi Spanyol yang bermigrasi ke nusantara untuk menyebarkan Islam, hal itu menyebabkan bangsa Portugis dan Spanyol semakin bersemangat untuk menghalangi usaha mereka.

 

Sesampainya di Jawa, mayoritas para imigran Maghribi Spanyol berhasil mendirikan organisasi dakwah terbesar di nusantara yang disebut dengan Dewan Walisongo. Dewan Walisongo adalah sebuah organisasi dakwah para wali yang dibentuk berdasarkan sidang para wali se jawa pada tahun 1463 M dan dilanjutkan pada tahun 1466 M. Dewan ini selain berfungsi sebagai organisasi dakwah para ulama, juga berfungsi sebagai lembaga sejenis MPR yang memiliki fungsi melantik dan menyumpah raja-raja Demak yang dipilih. Salah satu kerajaan Islam yang berhasil didirikan oleh para imigran Maghribi Spanyol adalah Kerajaan Demak Bintoro pada tahun 1475 M. Selain sebagai dewan penasehat raja, Dewan Walisongo juga berhak merekomendasikan berdirinya daerah-daerah kewalian (komplek pasantren) yang kedudukannya setara dengan kadipaten.

 

Beberapa daerah kewalian yang ada pada masa Kerajaan Demak Bintoro, misalnya Pesantren Boyolangu yang dipimpin Syekh Boyolangu (Syekh Ali Abdullah bin Muhammad Hasan Ibnul Ash Al-Maghribi), Pesantren Glagahwangi Demak dipimpin oleh Syekh Maulana Mudhofar Malik Hasan Al-Maghribi, Pesantren Bonang yang dipimpin Sunan Bonang Sepuh (Syekh Abdullah Hasan Bakem Al-Maghribi), Pesantren Kadilangu yang dipimpin oleh Syekh Kadilangu (Syekh Muhammad Basyir Hurqi bin Ali Abdullah bin Muhammad Hasan Ibnul Ash Al-Maghribi). Selanjutnya ada Pesantren di Banjarsari Sayung yang dipimpin Mbah Surodipo (Syekh Abdullah Bukhori bin Akhmad Bukhori Al-Maghribi), Pesantren Muria yang dipimpin Syekh Hasan Sadzili, Pesantren Lasem dipimpin oleh Syekh Muhammad Syarif (Sunan Bonang V) dari Champa, dan sebagainya.

 

Keberhasilan para imigran Maghribi Spanyol dalam penyebaran Islam di nusantara itu menjadikan keprihatinan Ratu Isabella dari Kerajaan Kastilia dan Raja Ferdinand dari Kejaraan Aragon, yang dikemudian hari setelah keduanya menikah dan menyatukan kerajaan berhasil merebut Granada dari tangan penguasa Muslim pada tahun 1492 M. Penelitian A.K.A. Hasan menyebutkan bahwa, Alfonso de Albuguerque sesungguhnya adalah anak angkat Ratu Isabella dan Vasco de Gama merupakan anak angkat dari Raja Ferdinand. Selanjutnya juga diketahui bahwa Tome Pires adalah sekretaris dari Alfonso de Albuquerque. Mereka memang sengaja di kirim ke nusantara melalui Goa India untuk menahan laju Islamisasi yang berlangsung sangat masif di nusantara. Karena itulah permusuhan antara Portugis dengan Demak terjadi.


Berkaitan dengan pembentukan Angkatan Laut yang kuat, maka pada saat pelantikan Raden Fatah sebagai Raja Kerajaan Demak Bintoro tahun 1475 M, maka dilantik pula Panglima Angkatan Laut yang pertama, yakni Aria Damar/Swan Lion/Rahmat Hidayatullah atau yang dikenal sebagai Kyai Palembang. Ia menjabat sejak tahun 1475-1496 M. Setelah mundur dari jabatannya kemudian dilanjutkan secara berurut-urut oleh Abdurrahman Singkil (Kyai Singkil) tahun 1496-1536 M, Joyo Hadi Kusumo atau Sunan Hadi (putra ke-5 Sunan Kalijaga dari istri ke-1) tahun 1536-1543 M, Fatahillah/Faletehan (1543-1564 M), Aria Penangsang (putra Surowiyoto bin Raden Fatah) tahun 1564-1586 M, dan Tumenggung Prayogo (1586-1616 M) yang juga menjabat Pelaksana Patih Mangkubumi tahun 1601-1616 M.

 

Kerajaan Demak Bintoro merupakan kerajaan yang bercorak maritim, hal ini dikarenakan posisinya yang mengahadap ke Selat Muria dan Laut Jawa. Untuk melengkapi kekuatan angkatan laut, maka dilantik pula panglima-panglima Angkatan Darat Kerajaan Demak Bintoro, yang meliputi: 1) Abdurrahman Teuku Baha pada tahun 1475-1479 M; 2) Mahdum Ibrahim Sampang (1479-1509 M);  3) Ja’far Shodiq (1509-1525 M); 4) Teuku Muhammad Thoha (Syekh Brojodento) tahun 1525-1543 M; 5) Arya Widhi (1543-1549 M); 6) Poncowati (1549-1582 M); dan Haryo Penangsang tahun 1549-1601 M.

 

Berdasarkan penjelasan dari sumber Babad, Aria Damar  dikatakan sebagai ayah tiri dari Raden Fatah. Sebab Aria Damar menikahi ibunya yang bernama Siu Ban Ci binti Syekh Bentong atau Tan Go Hwat setelah diceraikan oleh ayah Raden Fatah yang bernama Prabu Kertabumi (Brawijaya V). Penjelasan itu tidak benar, sebab hubungan Raden Fatah dengan Siu Ban Ci adalah anak dengan mertua. Meskipun bukan menantu secara langsung, karena yang menjadi ibu mertua Raden Fatah sesungguhnya istri kedua dari Aria Damar yang bernama Dewi Khoirun Nisa binti Syekh Maulana Ishaq. Sedangkan Siu Ban Ci adalah istri pertama Aria Damar yang wafat tahun 1451 M. Tempat makamnya Siu Ban Ci adalah di kompleks Pendopo Kabupaten Demak yang terkenal dengan sebutan makam Putri Campa.

 

Laksamana Aria Damar adalah peletak dasar pembangunan Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro. Strategi yang dikembangkan dalam membangun armada maritim tersebut adalah membangun infrastruktur pangkalan angkatan laut dan pelabuhan dalam Kotaraja Demak Bintoro dan di sepanjang Pantai Utara Jawa. Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah penataan struktur organisasi Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro yang memiliki garis komando dari atas ke seluruh pangkalan angkatan laut yang tersebar di seluruh Jawa dan Sumatra. Beberapa infrastruktur pangkalan angkatan laut yang dibangun oleh Aria Damar adalah Pangkalan Angkatan Laut Kotaraja Demak Bintoro yang berpusat di jalur Sungai Tuntang sisi Selatan yang ada di Kampung Kenep Mangunjiwan. Sedangkan sisi Utara Sungai Tuntang Kampung Kenep diperuntukkan sebagai pelabuhan niaga.

 

Pangkalan Angkatan Laut kedua di sungai Tuntang adalah di Gebangarum. Lokasi sekarang tepatnya di Pasar Gebang. Secara toponimi “Gebang” berasal dari kata “gerbang”. Secara bahasa gerbang adalah sebuah tempat yang ditandai dengan pintu penjagaan untuk keluar dan masuk menuju kawasan yang tertutup atau terjaga secara ketat. Dengan demikian bekas lokasi pasar Gebang itu dulunya merupakan pintu gerbang yang menghubungkan jalur kapal dari Laut Jawa dan Selat Muria menuju Sungai Tuntang sebelum memasuki Kotaraja Demak Bintoro. Lebar Sungai Tuntang pada abad 15 hingga 16 diperkirakan mencapai 100 meter lebih, sehingga bisa dilalui kapal-kapal besar yang berlayar dari arah pesisir menuju pedalaman Jawa Tengah atau sebaliknya. Jalur muara Sungai Tuntang bermuara terlebih dahulu ke Selat Muria, sebelum mencapai Laut Jawa. Lebar Selat Muria pada saat itu diperkirakan sekitar dua kilometer lebih.

 

Adapun beberapa pertahanan laut di pesisir utara Laut Jawa mulai dari timur ke barat ada sekitar 13 pangkalan. Tempat-tempat tersebut adalah: Ujung Galuh (Surabaya), Gresik, Lamongan, Tuban, Teluk Lasem, Juwana, Tedunan (Jepara), Terboyo, Ujungnegoro (Batang), Tegal, Cirebon, Karawang, Sunda Kelapa, dan Bojanegara (Banten). Kemudian setelah Kerajaan  Demak Bintoro mengalami perkembangan, terjadi perluasan pengaruh ke wilayah sekitar Selat Malaka, maka pembangunan pangkalan angkatan laut dilanjutkan ke Palembang, Jambi, Riau, dan Aceh.

 

Setelah semua infrastruktur angkatan laut terbentuk, kemudian diangkat para pejabat yang mengepalai pangkalan-pangkalan angkatan laut dengan jabatan yang setara dengan Senopati. Semua Senopati yang diangkat adalah keluarga kerajaan yang telah mendapatkan pendidikan di Akedemi Militer Angkatan Laut yang letaknya di sekitar Pendopo Kabupaten Demak. Sedangkan tempat pelatihannya di sekitar kampung tembiring. Sebagai bukti bahwa lokasi sekitar pendopo adalah lokasi markas adalah adanya beberapa tokoh dan keluarganya, beserta para prajurit angkatan laut yang juga dimakamkan di komplek Pendopo Kabupaten Demak, seperti Aria Damar/Kyai Palembang, Siu Ban Ci, Kyai Singkil, Kyai Mughni, Kyai Jebat, dan sebagainya.

 

Panglima Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro yang ke-2 adalah Abdurrahman Singkil. Ia menjabat antara tahun 1496-1536 M bertepatan dengan kekuasaan Raja Raden Fatah, Adipati Unus, Raden Surowiyoto, sampai dengan pertengahan Raja Trenggono. Prestasi penting ketika Laksamana Angkatan Laut dijabat oleh Abdurrahman Singkil adalah serangan militer Demak ke Portugis di Malaka tahun 1512-1515 M. Sebelum menguasai Malaka, pangkalan utama Portugis berada di Goa pantai barat India. Setelah berangkat dari Tanjung Verde dan berhasil mencapai Tanjung Harapan, Portugis di bawah Vasco de Gama berhasil mencapai pantai Calicut India pada bulan Mei tahun 1498. Sedangkan pada pelayaran berikutnya tahun 1510 M Portugis berhasil menguasai Goa sampai tahun 1561 M. Sejak itulah Goa berhasil dijadikan pangkalan utama Portugis di India untuk berikutnya dilanjutkan oleh Alfonso de Albuquerque ke Malaka.

 

Alfonso de Albuquerque berhasil tiba di Malaka pada tahun 1509M dan selanjutnya tahun 1511 M mereka berhasil menguasainya. Setelah Malaka jatuh, Portugis bertindak sewenang-wenang. Mereka melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah, menerapkan pajak yang tinggi terhadap kapal-kapal dari para pedagang Arab yang melewati selat Malaka, dan melakukan Kristenisasi. Setelah jatuhnya Malaka, jalur pelayaran dari para pedagang-pedagang Islam beralih ke jalur sebelah barat Sumatra (Samudera Hindia) dan masuk ke Laut Jawa melalui Selat Sunda. Dengan demikian maka pihak yang paling banyak dirugikan adalah Kerajaan Demak Bintoro. Sebab selama ini Demak merupakan pemasok utama beras ke wilayah Malaka.

 

Penulis: Akhmad Nur Qosim, Ketua Masyarakat Pemerhati Sejarah Demak (MPSD) Periode 2026-2031.

Editor: Rohmad Sholeh

Bagikan:
 Akhmad Nur Qosim
Akhmad Nur Qosim

Penulis lepas di NU Demak

Lihat Semua Tulisan

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar
Membalas komentar dari