Opini

Mengenang Kejayaan Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro Abad XV-XVI (Bagian 2-selesai)

31 Dilihat 0 Komentar
Mengenang Kejayaan Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro Abad XV-XVI (Bagian 2-selesai)

Oleh: Akhmad Nur Qosim

NU Online Demak, - Selama ini naskah Babad menceritakan, bahwa serangan Demak ke Malaka dipimpin oleh Adipati Unus. Kemudian serangan itu dilanjutkan oleh Ratu Kalinyamat pada tahun 1551 M dan 1571 M. Karena itulah Ratu Kalinyamat dinobatkan sebagai panhlawan nasional berdasarkan Keppers Nomor 115/TK/ Tahun 2023 tanggal 6 November 2023. Mengenai hal ini A.K.A. Hasan sangat meragukan keputusan itu, sebab pada tahun-tahun penyerangan itu Ratu Kalinyamat telah mengalami sakit parah (kembang kasur). Lagipula jabatan tertinggi Ratu Kalinyamat hanyalah seorang Adipati Jepara yang tidak mungkin memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan politik penting dalam bidang luar negeri. Keputusan sekelas serangan militer ke Portugis di Malaka tetap menjadi kewenangan dan tanggungjawab kekuasaan Raja Kerajaan Demak Bintoro. Gelar Pahlawan Nasional Indonesia seharusnya diberikan kepada Abdurrahman Singkil, Teuku Muhammad Thoha (Syekh Brojodento), dan Joyo Hadi Kusumo.

 

Serangan armada Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro ke Malaka tahun 1512-1515 M dipimpin oleh Laksamana Abdurrahman Singkil dengan dibantu Panglima Perang Angkatan Darat, Syekh Brojodento (Sunan Drajad III). Pada serangan itu kapal Portugis yang berjumlah 18 dapat dihancurkan. Pada saat serangan, sebanyak 12 kapal Portugis dapat dihancurkan, sehingga tinggal 6 kapal yang lolos. Dari 6 yang lolos itu akhirnya 2 kapal berhasil ditenggelamkan di tengah laut dan 1 rusak, sehingga tinggal 3 dibiarkan lolos untuk kembali ke pantai Goa India. Namun laporan dari Portugis mengatakan mereka yang menang, bahkan menewaskan panglima perangnya yang bernama Adipati Unus.

 

Selanjutnya pada tahun 1527 M serangan Kerajaan Demak Bintoro dilanjutkan ke kedudukan Portugis di Sunda Kelapa. Meski setelah berhasil diusir dari Malaka tahun 1512 M, pasukan Demak tetap berjaga di Malaka hingga tahun 1515 M untuk memastikan Portugis tidak kembali lagi. Setelah dipastikan tidak kembali ke Malaka, Pasukan Demak kembali ke Kotaraja Demak. Ternyata dugaan pasukan Demak meleset, sebab pada tahun berikutnya Pasukan Portugis berhasil kembali ke Malaka dengan pasukan yang lebih banyak, bahkan berhasil menancapkan pengaruhnya ke Sunda Pajajaran sehingga bisa menduduki Sunda Kelapa dan Bojanegara (Banten). Berdasarkan perjanjian antara Portugis dan Pajajaran dikatakan, bahwa Pajajaran mengijinkan Portugis membangun loji dan benteng pertahanan di pelabuhan Sunda Kelapa. Karena itulah raja Demak menganggap kehadiran Portugis di pelabuhan tersebut membahayakan kedaulatan maritim di nusantara.

 

Serangan Demak ke Jawa Barat ini dipimpin oleh Fatahillah antara tahun 1526 M dan 1527 M. Pada serangan ini Demak mengirimkan armada gabungan dari Demak dan Cirebon. Pada serangan itu Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro terlebih dulu menguasai pelabuhan Bojanegara (Banten). Namun serangan telak pada tanggal 22 Juni 1527 menyebabkan pelabuhan Sunda Kelapa berhasil di rebut dan pasukan Portugis berhasil dipukul mundur. Sekali lagi serangan Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro terhadap Portugis di wilayah Jawa Barat ini mengalami kesuksesan. Sejak itu nama Sunda Kelapa diubah menjadi Jayakarta yang berarti kemenangan besar.

 

Peristiwa penting bersejarah ketika Panglima Angkatan Laut dijabat oleh Laksamana Joyo Hadi Kusumo adalah terjadinya serangan Kapal Angkatan Laut Portugis ke Kotaraja Demak melalui jalur Sungai Tuntang pada tahun 1543 M. Pada saat itu 12 Kapal Portugis yang dipimpin oleh Mendez Pinto berhasil masuk mengalahkan penjagaan di Pangkalan Angkatan Laut di Gebangarum. Kemudian kapal berhasil berlayar masuk mendekati Kotaraja Demak Bintoro melalui jalur sungai Tuntang. Sampai di Karangmlati 12 Kapal Portugis tersebut berhasil dicegat oleh Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro bersama pasukan Angkatan Darat pimpinan Jenderal (Syekh) Brojodento. Maka di tempat itulah terjadilah pertempuran air yang sangat sengit. Pasukan Angkatan Darat menyerang dari selatan.

 

Karena kecanggihan meriam Portugis, maka berhasil menewaskan dua pemimpin Demak, yakni Laksamana Joyo Hadi Kusumo dan Jenderal (Syekh) Brojodento. Laksamana Joho Hadi Kusumo kemudian dimakamkan di Desa Karangmlati, sedangkan Jenderal (Syekh) Brojodento dimakamkan di komplek makam Megamendung. Duhulu masyarakat Demak menyebutnya dengan Sawahmendung, sekarang lokasi RSUD Sunan Kalijaga Demak. Lokasi ini memang menjadi markas prajurit Bhayangkara Kerajaan Demak Bintoro. Setelah gugurnya kedua tokoh tersebut, maka kepemimpinan angkatan perang diambil alih oleh Patih Mangkubumi Ronggo Tohjoyo atau Mahesa Jenar (Muhammad Zaenal Abidin). Dalam waktu singkat Pasukan Angkatan Laut Portugis berhasil dihancurkan. Dari 12 Kapal Portugis 11 Kapal berhasil ditenggelamkan, hanya disisakan 1 Kapal yang dikomandoi oleh Mendez Pinto. Mendez Pinto sengaja dibiarkan hidup untuk menyampaikan pesan Ronggo Tohjoyo kepada Alfonso de Albuquerque, agar Portugis jangan menyerang lagi, karena Demak tidak mungkin bisa dikalahkan.

 

Tahun 1543-1564 M komandan Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro dijabat oleh Fatahillah atau Faletehan (menurut logat Portugis). Beliau Kemudian bergelar Sunan Gunung Jati V. Pada saat serangan ke Sunda Kelapa tahun 1527 M yang menjabat sebagai Panglima Perang Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro adalah Abdurrahman Singkil (Kyai Singkil). Namun beliau sudah menjabat senopati dalam operasi militer tersebut. Pada saat beliau menjabat sebagai panglima, yang menjadi raja di Demak pada saat itu adalah Pangeran Cakrabuana atau yang sebelumnya disebut dengan Patih Wonosalam. Peristiwa terpenting yang terjadi selama Fatahillah menjabat adalah Peristiwa Pralaya tahun 1564 M. Dalam peristiwa itu, Portugis berhasil membunuh Raja Cakrabuana beserta seluruh keluarganya. Hanya satu anggota keluarga yang dapat meloloskan diri, yakni anak sulung dari Raja Cakrabuana yang bernama Raden Muhammad Arsyad Alawi. Pada saat datang serangan, dia berhasil meloloskan diri dengan menceburkan diri ke Sungai Tuntang. Kemudian di seberang sungai, ia ditolong oleh kepala prajurit telik sandi yang bernama Ki Demang Alap-alap dengan menunggang kuda Gagakrimang. Raden Muhammad Arsyad Alawi kemudian dibawa ke Pati untuk diamankan di rumah Saridin atau Syekh Jangkung. Setelah wafat Raden Muhammad Arsyad Alawi di makamkan di Dukuh Klumpit, Desa Sidomulyo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati.

 

Serangan Portugis berhasil merangsek masuk ke Kotaraja Demak Bintoro ternyata berkat kerjasama dan pengkhianatan yang rapi antara seorang tokoh dalam Kerajaan Demak Bintoro yang bernama RKN dan MK bekerjasama dengan Kerajaan Pajang, Mataram, dan padepokan ilmu hitam dari lereng Gunung Merapi yang dipimpin oleh Mak Lampir. Pada serangan Raja Cakrabuana tewas secara mengenaskan dengan kepala terpenggal. Kepala Raja Cakrabuana akhirnya dibawa oleh Mak Lampir ke lereng Gunung Merapi, sedangkan tubuhnya dimakamkan di Wonosalam. Jejak-jejak sejarah mengenai keberadaan Raja Cakrabuana (Patih Wonosalam) hanya berupa nama dukuh di Desa Wonosalam yang bernama Krajan. Di dukuh itulah Patih Wonosalam bertempat tinggal hingga meninggalnya. Setelah membantai keluarga Raja Cakrabuana, Portugis melanjutkan serangannya ke desa sebelah, yakni Karangrejo. Di sebuah dukuh yang bernama Rowobatok Portugis berhasil membakar pesantren dan membantai semua santrinya. Jumlah tentara Portugis yang berhasil dibantai oleh pasukan Demak berjumlah sekitar 100 orang. Lokasi tempat makam para para prajurit itu diperkirakan berada di lokasi Hotel Wijaya Kusuma Perum Wiku I Demak.

 

Pada masa Angkatan Laut dibawah kepemimpinan Laksamana Aria Penangsang tahun 1564-1586 M, Kerajaan Pajang dan Mataram kembali menyerang Demak pada tahun 1582 M. Serangan Pajang dan Mataram kali ini menewaskan Pangeran Poncowati (putra Ja’far Shodiq Sunan Kudus). Pangeran Poncowati yang menjabat senopati tewas karena serangan tiba-tiba dari Pajang dan Mataram. Akibat serangan dari Pajang dan Mataram yang dilakukan secara berulangkali maka Aria Penangsang yang menjadi panglima pada saat itu melakukan pembalasan dengan membumi hanguskan istana Pajang pada tahun 1584 M. Akibat serangan Demak itu, maka Joko Tingkir menyingkir ke Mataram. Pada tahun 1586 M Mataram kembali menyerang Kerajaan Demak Bintoro melalui dua arah, yakni dari selatan dan timur.

 

Dalam pertempuran yang tidak seimbang, pasukan Aria Penangsang dicegat di daerah sekitar lembah Sungai Bengawan Solo, tepatnya di Desa Pringgoboyo, Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan. Aria Penangsang akhirnya terbunuh oleh pasukan Mataram yang dipimpin Ki Ageng Pamenahan dan Joko Tingkir.  Jenazah Aria Penangsang oleh masyarakat kemudian dimakamkan di desa setempat tempat pertempuran.

 

Panglima Angkatan Laut terakhir Kerajaan Demak Bintoro dijabat oleh Tumenggung Prayogo pada tahun 1586-1616 M. Ketika beliau menjabat, yang menjadi raja adalah Raden Muhammad Aminudin Hasan bin Raden Fatah. Beliau merupakan raja yang terakhir Kerajaan Demak Bintoro. Pada masa pemerintahannya kondisi politik Kerajaan Demak Bintoro sudah mulai melemah. Pada masa akhir ini Tumenggung Prayogo merangkap jabatan disamping sebagai Panglima Angkatan Laut, beliau juga menjadi Pelaksana Patih Mangkubumi. Pada sekitar tahun 1601 M terjadi lagi serangan Mataram yang dipimpin Danang Sutawijaya (Panembahan Senapati). Pasukan Demak menghadang Mataram di Ambarawa. Tidak seperti perang-perang sebelumnya, pada pertempuran di Ambarawa kali ini melibatkan sang raja di kedua belah pihak secara langsung. Demak dipimpin oleh Raja Muhammad Aminudin Hasan sedang Mataram dipimpin oleh Danang Sutawijaya atau Panembahan Senapati.

 

Perang tanding kedua raja ini sangat seru, karena keduanya menggunakan ajian pamungkas. Panembahan Senopati menggunakan ilmu ajian Rawarontek sedangkan Raja Muhammad Aminudin menggunakan ajian Pancasona. Dalam perang tanding itu akhirnya Panembahan Senopati berhasil dibunuh, sedangkan Muhammad Aminudin mengalami luka yang cukup parah. Setelah perang usai Raja Muhmmad Aminudin kembali ke kediamannya di Gandok Desa Karangrejo, Wonosalam. Namun tidak lama kemudian beliau juga wafat dan dimakamkan di desa setempat.

 

Ini adalah akhir dari perjalanan panjang Kerajaan Demak Bintoro sekaligus perjalanan angkatan perangnya. Setelah kekuasaan berakhir, Demak hanya menjadi katemunggengan di bawah Kerajaan Mataram. Pemerintahan Katemunggengan Demak akhirnya dijabat oleh Prayogo. Untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan Prayogo akhirnya bersedia melakukan perdamaian dengan Mataram.

 

Demikian narasi tentang perjalanan kekuatan Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro yang sekaligus menggambarkan sejarah militer Demak mulai lahir sampai keruntuhannya. Narasi tentang kejayaan Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro ternyata bukan hanya bercerita tentang kemengan di laut, namun juga kisah-kisah kepahlawanan dari para tokoh dengan segenap pengorbanan jiwa, raga, dan air mata. Kejayaan Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro adalah cermin dari sebuah keberanian, kecakapan maritim, yang menjadi dasar bagi kebangkitan politik dan budaya pada masanya. Jejak perjalanan kapal, strategi pelayaran, dan perang di laut menunjukkan bagaimana kekuatan maritim dapat menyatukan daerah-daerah, menegaskan identitas sebuah kerajaan di tengah tekanan politik regional dan pengkhianatan dari dalam.

 

Gerak sejarah tidak hanya bercerita tentang kejayaan, namun sebuah siklus kehidupan mulai dari lahir, berkembang, mencapai puncak kejayaan, mengalami kemunduran, dan berakhir dengan kehancuran. Semoga kisah tentang kejayaan Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro dapat menginspirasi generasi sekarang untuk melestarikan sejarah, memperkuat bacaan tentang sejarah Kerajaan Demak Bintoro yang benar, dan pada akhirnya mengembangkan kebijakan yang menempatkan maritim sebagai potensi yang sangat strategis. Dengan memahami masa lalu kita dapat merancang masa depan yang lebih baik. Bagi sebuah negara yang bercorak maritim, laut bukan dipandang sebagai faktor yang memisahkan, tetapi jalan penghubung untuk menyatukan.

 

Penulis: Akhmad Nur Qosim, Ketua Masyarakat Pemerhati Sejarah Demak (MPSD) Periode 2026-2031.

Editor: Rohmad Sholeh

Bagikan:
 Akhmad Nur Qosim
Akhmad Nur Qosim

Penulis lepas di NU Demak

Lihat Semua Tulisan

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar
Membalas komentar dari