Oleh: Akhmad Nur
Qosim
NU Online Demak, - Selama ini naskah Babad menceritakan, bahwa
serangan Demak ke Malaka dipimpin oleh Adipati Unus. Kemudian serangan itu
dilanjutkan oleh Ratu Kalinyamat pada tahun 1551 M dan 1571 M. Karena itulah
Ratu Kalinyamat dinobatkan sebagai panhlawan nasional berdasarkan Keppers Nomor
115/TK/ Tahun 2023 tanggal 6 November 2023. Mengenai hal ini A.K.A. Hasan sangat
meragukan keputusan itu, sebab pada tahun-tahun penyerangan itu Ratu Kalinyamat
telah mengalami sakit parah (kembang
kasur). Lagipula jabatan tertinggi Ratu Kalinyamat hanyalah seorang Adipati
Jepara yang tidak mungkin memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan politik
penting dalam bidang luar negeri. Keputusan sekelas serangan militer ke
Portugis di Malaka tetap menjadi kewenangan dan tanggungjawab kekuasaan Raja Kerajaan
Demak Bintoro. Gelar Pahlawan Nasional Indonesia seharusnya diberikan kepada
Abdurrahman Singkil, Teuku Muhammad Thoha (Syekh Brojodento), dan Joyo Hadi Kusumo.
Serangan armada
Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro ke Malaka tahun 1512-1515 M dipimpin oleh
Laksamana Abdurrahman Singkil dengan dibantu Panglima Perang Angkatan Darat, Syekh
Brojodento (Sunan Drajad III). Pada serangan itu kapal Portugis yang berjumlah
18 dapat dihancurkan. Pada saat serangan, sebanyak 12 kapal Portugis dapat
dihancurkan, sehingga tinggal 6 kapal yang lolos. Dari 6 yang lolos itu
akhirnya 2 kapal berhasil ditenggelamkan di tengah laut dan 1 rusak, sehingga
tinggal 3 dibiarkan lolos untuk kembali ke pantai Goa India. Namun laporan dari
Portugis mengatakan mereka yang menang, bahkan menewaskan panglima perangnya
yang bernama Adipati Unus.
Selanjutnya pada
tahun 1527 M serangan Kerajaan Demak Bintoro dilanjutkan ke kedudukan Portugis
di Sunda Kelapa. Meski setelah berhasil diusir dari Malaka tahun 1512 M, pasukan
Demak tetap berjaga di Malaka hingga tahun 1515 M untuk memastikan Portugis
tidak kembali lagi. Setelah dipastikan tidak kembali ke Malaka, Pasukan Demak
kembali ke Kotaraja Demak. Ternyata dugaan pasukan Demak meleset, sebab pada
tahun berikutnya Pasukan Portugis berhasil kembali ke Malaka dengan pasukan yang
lebih banyak, bahkan berhasil menancapkan pengaruhnya ke Sunda Pajajaran
sehingga bisa menduduki Sunda Kelapa dan Bojanegara (Banten). Berdasarkan
perjanjian antara Portugis dan Pajajaran dikatakan, bahwa Pajajaran mengijinkan
Portugis membangun loji dan benteng pertahanan di pelabuhan Sunda Kelapa.
Karena itulah raja Demak menganggap kehadiran Portugis di pelabuhan tersebut membahayakan
kedaulatan maritim di nusantara.
Serangan Demak
ke Jawa Barat ini dipimpin oleh Fatahillah antara tahun 1526 M dan 1527 M. Pada
serangan ini Demak mengirimkan armada gabungan dari Demak dan Cirebon. Pada
serangan itu Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro terlebih dulu menguasai
pelabuhan Bojanegara (Banten). Namun serangan telak pada tanggal 22 Juni 1527
menyebabkan pelabuhan Sunda Kelapa berhasil di rebut dan pasukan Portugis
berhasil dipukul mundur. Sekali lagi serangan Angkatan Laut Kerajaan Demak
Bintoro terhadap Portugis di wilayah Jawa Barat ini mengalami kesuksesan. Sejak
itu nama Sunda Kelapa diubah menjadi Jayakarta yang berarti kemenangan besar.
Peristiwa
penting bersejarah ketika Panglima Angkatan Laut dijabat oleh Laksamana Joyo Hadi
Kusumo adalah terjadinya serangan Kapal Angkatan Laut Portugis ke Kotaraja
Demak melalui jalur Sungai Tuntang pada tahun 1543 M. Pada saat itu 12 Kapal
Portugis yang dipimpin oleh Mendez Pinto berhasil masuk mengalahkan penjagaan
di Pangkalan Angkatan Laut di Gebangarum. Kemudian kapal berhasil berlayar
masuk mendekati Kotaraja Demak Bintoro melalui jalur sungai Tuntang. Sampai di
Karangmlati 12 Kapal Portugis tersebut berhasil dicegat oleh Angkatan Laut
Kerajaan Demak Bintoro bersama pasukan Angkatan Darat pimpinan Jenderal (Syekh)
Brojodento. Maka di tempat itulah terjadilah pertempuran air yang sangat
sengit. Pasukan Angkatan Darat menyerang dari selatan.
Karena
kecanggihan meriam Portugis, maka berhasil menewaskan dua pemimpin Demak, yakni
Laksamana Joyo Hadi Kusumo dan Jenderal (Syekh) Brojodento. Laksamana Joho Hadi
Kusumo kemudian dimakamkan di Desa Karangmlati, sedangkan Jenderal (Syekh) Brojodento
dimakamkan di komplek makam Megamendung. Duhulu masyarakat Demak menyebutnya
dengan Sawahmendung, sekarang lokasi RSUD Sunan Kalijaga Demak. Lokasi ini
memang menjadi markas prajurit Bhayangkara Kerajaan Demak Bintoro. Setelah gugurnya
kedua tokoh tersebut, maka kepemimpinan angkatan perang diambil alih oleh Patih
Mangkubumi Ronggo Tohjoyo atau Mahesa Jenar (Muhammad Zaenal Abidin). Dalam
waktu singkat Pasukan Angkatan Laut Portugis berhasil dihancurkan. Dari 12
Kapal Portugis 11 Kapal berhasil ditenggelamkan, hanya disisakan 1 Kapal yang
dikomandoi oleh Mendez Pinto. Mendez Pinto sengaja dibiarkan hidup untuk
menyampaikan pesan Ronggo Tohjoyo kepada Alfonso de Albuquerque, agar Portugis
jangan menyerang lagi, karena Demak tidak mungkin bisa dikalahkan.
Tahun 1543-1564 M
komandan Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro dijabat oleh Fatahillah atau
Faletehan (menurut logat Portugis). Beliau Kemudian bergelar Sunan Gunung Jati
V. Pada saat serangan ke Sunda Kelapa tahun 1527 M yang menjabat sebagai
Panglima Perang Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro adalah Abdurrahman Singkil
(Kyai Singkil). Namun beliau sudah menjabat senopati dalam operasi militer
tersebut. Pada saat beliau menjabat sebagai panglima, yang menjadi raja di
Demak pada saat itu adalah Pangeran Cakrabuana atau yang sebelumnya disebut
dengan Patih Wonosalam. Peristiwa terpenting yang terjadi selama Fatahillah
menjabat adalah Peristiwa Pralaya tahun 1564 M. Dalam peristiwa itu, Portugis berhasil
membunuh Raja Cakrabuana beserta seluruh keluarganya. Hanya satu anggota
keluarga yang dapat meloloskan diri, yakni anak sulung dari Raja Cakrabuana
yang bernama Raden Muhammad Arsyad Alawi. Pada saat datang serangan, dia
berhasil meloloskan diri dengan menceburkan diri ke Sungai Tuntang. Kemudian di
seberang sungai, ia ditolong oleh kepala prajurit telik sandi yang bernama Ki
Demang Alap-alap dengan menunggang kuda Gagakrimang. Raden Muhammad Arsyad
Alawi kemudian dibawa ke Pati untuk diamankan di rumah Saridin atau Syekh
Jangkung. Setelah wafat Raden Muhammad Arsyad Alawi di makamkan di Dukuh
Klumpit, Desa Sidomulyo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati.
Serangan
Portugis berhasil merangsek masuk ke Kotaraja Demak Bintoro ternyata berkat
kerjasama dan pengkhianatan yang rapi antara seorang tokoh dalam Kerajaan Demak
Bintoro yang bernama RKN dan MK bekerjasama dengan Kerajaan Pajang, Mataram,
dan padepokan ilmu hitam dari lereng Gunung Merapi yang dipimpin oleh Mak
Lampir. Pada serangan Raja Cakrabuana tewas secara mengenaskan dengan kepala
terpenggal. Kepala Raja Cakrabuana akhirnya dibawa oleh Mak Lampir ke lereng
Gunung Merapi, sedangkan tubuhnya dimakamkan di Wonosalam. Jejak-jejak sejarah
mengenai keberadaan Raja Cakrabuana (Patih Wonosalam) hanya berupa nama dukuh
di Desa Wonosalam yang bernama Krajan. Di dukuh itulah Patih Wonosalam
bertempat tinggal hingga meninggalnya. Setelah membantai keluarga Raja
Cakrabuana, Portugis melanjutkan serangannya ke desa sebelah, yakni Karangrejo.
Di sebuah dukuh yang bernama Rowobatok Portugis berhasil membakar pesantren dan
membantai semua santrinya. Jumlah tentara Portugis yang berhasil dibantai oleh
pasukan Demak berjumlah sekitar 100 orang. Lokasi tempat makam para para
prajurit itu diperkirakan berada di lokasi Hotel Wijaya Kusuma Perum Wiku I
Demak.
Pada masa
Angkatan Laut dibawah kepemimpinan Laksamana Aria Penangsang tahun 1564-1586 M,
Kerajaan Pajang dan Mataram kembali menyerang Demak pada tahun 1582 M. Serangan
Pajang dan Mataram kali ini menewaskan Pangeran Poncowati (putra Ja’far Shodiq
Sunan Kudus). Pangeran Poncowati yang menjabat senopati tewas karena serangan
tiba-tiba dari Pajang dan Mataram. Akibat serangan dari Pajang dan Mataram yang
dilakukan secara berulangkali maka Aria Penangsang yang menjadi panglima pada
saat itu melakukan pembalasan dengan membumi hanguskan istana Pajang pada tahun
1584 M. Akibat serangan Demak itu, maka Joko Tingkir menyingkir ke Mataram.
Pada tahun 1586 M Mataram kembali menyerang Kerajaan Demak Bintoro melalui dua
arah, yakni dari selatan dan timur.
Dalam
pertempuran yang tidak seimbang, pasukan Aria Penangsang dicegat di daerah
sekitar lembah Sungai Bengawan Solo, tepatnya di Desa Pringgoboyo, Kecamatan
Maduran, Kabupaten Lamongan. Aria Penangsang akhirnya terbunuh oleh pasukan
Mataram yang dipimpin Ki Ageng Pamenahan dan Joko Tingkir. Jenazah Aria Penangsang oleh masyarakat
kemudian dimakamkan di desa setempat tempat pertempuran.
Panglima
Angkatan Laut terakhir Kerajaan Demak Bintoro dijabat oleh Tumenggung Prayogo
pada tahun 1586-1616 M. Ketika beliau menjabat, yang menjadi raja adalah Raden
Muhammad Aminudin Hasan bin Raden Fatah. Beliau merupakan raja yang terakhir Kerajaan
Demak Bintoro. Pada masa pemerintahannya kondisi politik Kerajaan Demak Bintoro
sudah mulai melemah. Pada masa akhir ini Tumenggung Prayogo merangkap jabatan
disamping sebagai Panglima Angkatan Laut, beliau juga menjadi Pelaksana Patih Mangkubumi.
Pada sekitar tahun 1601 M terjadi lagi serangan Mataram yang dipimpin Danang
Sutawijaya (Panembahan Senapati). Pasukan Demak menghadang Mataram di Ambarawa.
Tidak seperti perang-perang sebelumnya, pada pertempuran di Ambarawa kali ini
melibatkan sang raja di kedua belah pihak secara langsung. Demak dipimpin oleh
Raja Muhammad Aminudin Hasan sedang Mataram dipimpin oleh Danang Sutawijaya
atau Panembahan Senapati.
Perang tanding
kedua raja ini sangat seru, karena keduanya menggunakan ajian pamungkas.
Panembahan Senopati menggunakan ilmu ajian Rawarontek sedangkan Raja Muhammad Aminudin
menggunakan ajian Pancasona. Dalam perang tanding itu akhirnya Panembahan Senopati
berhasil dibunuh, sedangkan Muhammad Aminudin mengalami luka yang cukup parah.
Setelah perang usai Raja Muhmmad Aminudin kembali ke kediamannya di Gandok Desa
Karangrejo, Wonosalam. Namun tidak lama kemudian beliau juga wafat dan
dimakamkan di desa setempat.
Ini adalah akhir
dari perjalanan panjang Kerajaan Demak Bintoro sekaligus perjalanan angkatan
perangnya. Setelah kekuasaan berakhir, Demak hanya menjadi katemunggengan di
bawah Kerajaan Mataram. Pemerintahan Katemunggengan Demak akhirnya dijabat oleh
Prayogo. Untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan Prayogo akhirnya bersedia
melakukan perdamaian dengan Mataram.
Demikian narasi
tentang perjalanan kekuatan Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro yang sekaligus
menggambarkan sejarah militer Demak mulai lahir sampai keruntuhannya. Narasi tentang
kejayaan Angkatan Laut Kerajaan Demak Bintoro ternyata bukan hanya bercerita
tentang kemengan di laut, namun juga kisah-kisah kepahlawanan dari para tokoh dengan
segenap pengorbanan jiwa, raga, dan air mata. Kejayaan Angkatan Laut Kerajaan
Demak Bintoro adalah cermin dari sebuah keberanian, kecakapan maritim, yang
menjadi dasar bagi kebangkitan politik dan budaya pada masanya. Jejak
perjalanan kapal, strategi pelayaran, dan perang di laut menunjukkan bagaimana
kekuatan maritim dapat menyatukan daerah-daerah, menegaskan identitas sebuah
kerajaan di tengah tekanan politik regional dan pengkhianatan dari dalam.
Gerak sejarah
tidak hanya bercerita tentang kejayaan, namun sebuah siklus kehidupan mulai
dari lahir, berkembang, mencapai puncak kejayaan, mengalami kemunduran, dan
berakhir dengan kehancuran. Semoga kisah tentang kejayaan Angkatan Laut
Kerajaan Demak Bintoro dapat menginspirasi generasi sekarang untuk melestarikan
sejarah, memperkuat bacaan tentang sejarah Kerajaan Demak Bintoro yang benar,
dan pada akhirnya mengembangkan kebijakan yang menempatkan maritim sebagai
potensi yang sangat strategis. Dengan memahami masa lalu kita dapat merancang
masa depan yang lebih baik. Bagi sebuah negara yang bercorak maritim, laut bukan
dipandang sebagai faktor yang memisahkan, tetapi jalan penghubung untuk
menyatukan.
Penulis: Akhmad Nur
Qosim, Ketua Masyarakat Pemerhati Sejarah Demak (MPSD) Periode 2026-2031.
Editor: Rohmad Sholeh
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar